Ragam  

BPBD Parigi Moutong Waspadai Ancaman Karhutla di Tengah Cuaca Ekstrem

BPBD Parigi Moutong Waspadai Ancaman Karhutla di Tengah Cuaca Ekstrem
Rapat koordinasi yang dilaksanakan BPBD Parigi Moutong di ruang Pusdalops, Selasa, 27 Januari 2026. (Foto: Dok BPBD Parigi Moutong)

JURNAL LENTERA, PARIGI MOUTONG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Parigi Moutong mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah kondisi cuaca ekstrem yang sulit diprediksi di wilayah Sulawesi Tengah.

Kewaspadaan tersebut menyusul terjadinya delapan kasus karhutla di Kabupaten Parigi Moutong sepanjang Januari 2026.

Plt Kepala Pelaksana BPBD Parigi Moutong, Rivay, ST, M.Si., mengungkapkan delapan kejadian karhutla tersebut terdiri atas lima kebakaran lahan dan tiga kebakaran hutan, yang sebagian besar terjadi di wilayah eks Parigi.

BACA JUGA: BPBD Parigi Moutong Gandeng Ahli Geofisika dan Arsitektur Bahas Potensi Gempa di Teluk Tomini

Menurutnya, data tersebut menjadi peringatan dini bagi seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan. Apalagi, di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu.

BACA JUGA: BPBD Parigi Moutong Bantu Warga Terdampak Kebakaran di Empat Desa

“Sehingga, menuntut kita untuk lebih siaga dalam menghadapi potensi karhutla. Makanya rapat ini membahas langkah antisipasi dan kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla seiring dinamika cuaca yang berubah cepat,” ujar Rivay dalam rapat koordinasi yang digelar BPBD Parigi Moutong bersama sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) di ruang Pusdalops, Selasa, 27 Januari 2026.

Keterbatasan sarana dan prasarana masih menjadi tantangan dalam penanganan karhutla. Terutama di kawasan pegunungan yang sulit dijangkau oleh armada pemadam kebakaran.

“Kami baru dapat menyalurkan peralatan sederhana seperti mesin alkon, tangki air, serta peralatan manual di wilayah rawan kebakaran,” katanya.

Sebagai langkah pencegahan, kata dia, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Parigi Moutong telah menerbitkan surat edaran kepada masyarakat agar lebih berhati-hati saat membuka lahan pertanian dan perkebunan.

Selain itu, mengimbau agar masyarakat menghindari praktik pembakaran terbuka yang berpotensi memicu kebakaran.

Menurutnya, penguatan koordinasi lintas sektor serta kesiapan sumber daya manusia menjadi kunci untuk meminimalkan risiko karhutla ke depan. Sehingga, semua pihak harus bersinergi dengan kemampuan yang ada.

“Sembari terus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman karhutla,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri, Solih Alfiandi, menyampaikan sebagian kejadian karhutla dipicu oleh kondisi kemarau yang terjadi lebih cepat dari perkiraan.

Sulawesi Tengah merupakan wilayah dengan karakter cuaca yang sulit diprediksi. Perubahan cuaca bisa berlangsung cepat di setiap daerah.

“Termasuk di Kabupaten Parigi Moutong,” tandas Solih Alfiandi yang hadir melalui daring.

Laporan : Miswar

Respon (2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *