“Mereka jauh lebih nyaman bermain bertahan dan mengandalkan serangan balik melawan negara-negara besar, seperti yang mereka lakukan di Piala Dunia terakhir.”
“Ketika mereka harus membongkar pertahanan tim yang bermain defensif, mereka sepertinya tidak tahu caranya, dan akhirnya hanya mengandalkan set-piece, umpan panjang, crossing, dan umpan diagonal daripada menggunakan metodologi berbasis penguasaan bola yang sesungguhnya.”
“Ketika mereka harus membongkar pertahanan tim yang bermain defensif, mereka sepertinya tidak tahu caranya, dan akhirnya hanya mengandalkan set-piece, umpan panjang, crossing, dan umpan diagonal daripada menggunakan metodologi berbasis penguasaan bola yang sesungguhnya.”
Dalam fase bertahan, pakem permainan timnas Indonesia bertransformasi menjadi 5-4-1. Saat memegang bola, pasukan Garuda tampil dengan skema 3-4-3. “Kami nyaris selalu punya lima pemain belakang dalam fase bertahan.
Namun, dalam fase menyerang kami bermain dengan tiga bek. Kami bisa memanfaatkan bek sayap kami,” kata Shin Tae-yong usai laga versus Arab Saudi.
“Salah satu alasan kenapa kami menunjukkan performa bagus melawan Arab Saudi adalah para penyerang mau membantu dalam fase bertahan tim dengan bagus dan rela,” tutur Shin Tae-yong menjelaskan pilihan taktiknya.
Artikel ini telah tayang sebelumnya di Kompas.com











Respon (1)