JURNAL LENTERA, BUOL – Personel SAR Kompi 4 Batalyon A Pelopor Satbrimob Polda Sulawesi Tengah (Sulteng) tidak hanya fokus membantu proses evakuasi dan pembersihan material bangunan pascagempa bumi di Kabupaten Buol.
Namun, para pesonel SAR Satbrimob Polda Sulteng juga memberikan trauma healing kepada anak-anak penyintas bencana, Sabtu, 18 Juli 2026.
Kegiatan tersebut dilakukan sebagai upaya memulihkan kondisi psikologis anak-anak yang masih diliputi rasa takut akibat gempa.
Melalui pendekatan yang humanis, personel Brimob mengajak anak-anak mengikuti berbagai permainan edukatif dan interaktif yang dirancang untuk mengembalikan semangat serta keceriaan mereka di tengah situasi pengungsian.
Suasana penuh tawa terlihat selama kegiatan berlangsung. Anak-anak tampak antusias mengikuti setiap permainan yang dipandu personel Brimob. Sehingga, perlahan perhatian mereka teralihkan dari trauma yang masih membekas pascagempa.
Untuk menambah semangat, personel SAR Brimob juga membagikan hadiah sederhana kepada anak-anak yang berpartisipasi aktif dalam berbagai permainan.
Meski sederhana, hadiah tersebut disambut dengan penuh kegembiraan dan semakin mencairkan suasana di lokasi pengungsian.
Komandan Kompi (Danki) 4 Batalyon A Pelopor Satbrimob Polda Sulteng, AKP Suharyono, mengatakan pemulihan psikologis anak-anak merupakan bagian penting dari penanganan bencana yang tidak boleh diabaikan.
“Anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan mengalami trauma setelah bencana. Melalui kegiatan trauma healing ini kami berharap mereka dapat kembali ceria, berani beraktivitas, dan perlahan melupakan rasa takut akibat gempa yang terjadi. Kehadiran personel Brimob di lokasi bencana tidak hanya untuk membantu secara fisik. Tetapi, juga memberikan dukungan moral dan semangat kepada masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, proses pemulihan pascabencana harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya berfokus pada perbaikan infrastruktur dan penanganan dampak fisik. Tetapi, juga memperhatikan kesehatan mental para penyintas, khususnya anak-anak.
Melalui kegiatan trauma healing yang dilakukan secara berkelanjutan dapat membantu mengurangi dampak psikologis yang dialami anak-anak korban gempa.
“Dengan kondisi mental yang semakin pulih, mereka dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan rasa aman, percaya diri, dan penuh harapan di tengah proses pemulihan Kabupaten Buol pascabencana,” tandasnya.
Laporan : Mifta’in











