JURNAL LENTERA, PARIGI MOUTONG – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Parigi Moutong mengungkap penyebab utama anjloknya nilai pendidikan di sejumlah sekolah.
Temuan ini menunjukkan bahwa persoalan bukan semata pada kualitas mengajar guru, melainkan pada ketidakteraturan pelaporan data digital ke sistem Rapor Pendidikan.
Kepala Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Disdikbud Parigi Moutong, Farid, menjelaskan banyak sekolah sebenarnya telah menjalankan berbagai program pembelajaran.
Namun, hasil kegiatan tersebut tidak tercatat dalam sistem akibat kendala teknis maupun rendahnya literasi teknologi.
“Rendahnya rapor itu bukan karena guru kita tidak bagus. Bisa jadi karena belum melek teknologi. Program sudah berjalan, tapi tidak diinput ke sistem, sehingga terbaca rendah,” ujar Farid di Parigi pada Senin, 27 April 2026.
Ia mencontohkan kegiatan seperti pesantren kilat yang telah dilaksanakan di sekolah, tetapi tidak dilaporkan secara digital. Akibatnya, capaian tersebut tidak terdeteksi dalam penilaian nasional.
Sebagai upaya perbaikan, kata dia, pihaknya lantas menetapkan program prioritas berupa pendampingan berkelanjutan bagi para guru.
Program ini diawali dengan penguatan literasi digital, kemudian dilanjutkan dengan pelatihan pembuatan konten media ajar serta optimalisasi pengisian Rapor Pendidikan.
“Selain itu, kami juga menetapkan 11 sekolah sebagai pilot project dengan capaian literasi dan numerasi kategori A dan B. Sekolah-sekolah ini diharapkan menjadi contoh dalam penerapan peningkatan mutu pendidikan,” katanya.
Menariknya, sekolah unggulan tersebut tidak hanya berasal dari wilayah perkotaan. Tetapi, juga dari kecamatan seperti Sausu hingga Taopa.
“Sekolah pilot ini tidak hanya dalam kota. Di Taopa misalnya, mereka jadi percontohan wilayah Moutong karena kepala sekolahnya sangat aktif. Jadi bukan soal fasilitas atau internet saja, tapi soal keseriusan,” ungkapnya.
Pihaknya telah menyusun jadwal pendampingan intensif bagi para pendidik. Setelah pelatihan literasi digital, program akan berlanjut dengan pendampingan pembuatan media ajar yang nantinya dievaluasi dampaknya terhadap proses pembelajaran siswa.
Tujuan utama dari rangkaian program tersebut adalah memastikan tidak ada lagi siswa di Parigi Moutong yang tertinggal dalam kemampuan dasar.
“Jangan sampai anak-anak kita tidak bisa membaca, tidak bisa bercerita, apalagi tidak tahu perhitungan dasar. Target kita adalah hasil akhir, dan itu harus didukung oleh laporan yang akurat,” tandasnya.
Laporan : Multazam










