JURNAL LENTERA, PALU – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Parigi Moutong mulai menggalang kolaborasi besar lintas sektor dengan menargetkan nol Anak Tidak Sekolah (ATS) sebagai langkah strategis membenahi sektor pendidikan.
Bahkan, dalam rapat koordinasi (rakor) penanganan ATS tingkat Provinsi Sulawesi Tengah yang digelar di Kota Palu pada Kamis, 16 April 2026, Pemkab Parigi Moutong menyampaikan komitmennya.
Saat menghadiri rakor penanganan ATS tersebut, Pemkab Parigi Moutong dipimpin langsung Bunda PAUD Hj. Hestiwati Nanga, didampingi Ketua Komisi IV DPRD Sutoyo. Selain itu, turut didampingi pihak Bappelitbangda, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil), bersama Dinas Sosial (Dinsos).
Rakor yang berlangsung selama tiga hari, sejak 15 hingga 17 April 2026, menjadi forum strategis bagi seluruh kabupaten/kota di Sulawesi Tengah dalam merumuskan langkah konkret guna memastikan setiap anak memperoleh hak pendidikan yang layak.
Bunda PAUD Parigi Moutong, Hestiwati Nanga, menegaskan upaya menekan angka ATS tidak bisa dilakukan secara parsial. Melainkan membutuhkan sinergi seluruh pihak, mulai dari pemerintah hingga keluarga.
“Pendidikan adalah fondasi utama masa depan daerah kita. Makanya, kita tidak boleh membiarkan satu pun anak tertinggal. Target kita jelas, bagaimana melalui kolaborasi ini angka ATS bisa ditekan hingga nol,” ujarnya.
Kunci utama keberhasilan program tersebut, kata dia, terletak pada ketersediaan data yang akurat serta pendekatan persuasif kepada masyarakat, khususnya keluarga anak.
“Pendataan terpadu dan empati dalam pendekatan menjadi hal penting agar kebijakan yang diambil tepat sasaran dan berkelanjutan,” katanya.
Ia berharap, melalui koordinasi intensif antara pemerintah pusat dan daerah, hasil pertemuan tersebut segera diimplementasikan di lapangan.
“Upaya tersebut menjadi bagian dari langkah besar Pemkab Parigi Moutong dalam menciptakan generasi yang cerdas, berdaya saing, dan berkarakter menuju masa depan yang lebih baik,” ungkapnya.
Dalam rakor tersebut, turut menghadirkan pakar pendidikan, Dr. Asia, yang menekankan pentingnya integrasi data antar-OPD untuk mengidentifikasi akar persoalan ATS secara komprehensif.
“Peran keluarga perlu digarisbawahi sebagai faktor penting dalam memastikan anak tetap mengenyam pendidikan,” pungkasnya.
Laporan : Mifta’in










