Pakistan Bergelut dengan Wabah Kolera Mematikan

Beberapa orang yang menderita kolera menerima perawatan di Pusat Perawatan Kolera Doctors Without Borders, di Port au Prince, Haiti, 09 November 2012, di mana, setelah Badai Sandy, jumlah korban kolera meningkat secara dramatis. Pemerintah Haiti dan kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa setempat telah meminta masyarakat internasional memberikan bantuan senilai 39 juta dolar AS untuk menangani kebutuhan kemanusiaan yang dihadapi negara Karibia karena kehancuran yang disebabkan oleh badai. (Foto: EPA/ORLANDO BARRIA)

JURNAL LENTERA, ISLAMABAD – Wabah kolera yang mematikan terkait dengan air minum yang terkontaminasi telah menginfeksi ribuan orang di Pakistan tengah, saat negara itu bergulat dengan krisis air yang diperparah gelombang panas yang brutal di Asia Selatan.

Suhu di beberapa bagian Pakistan dan India telah mencapai tingkat rekor dalam beberapa pekan terakhir, menempatkan jutaan nyawa dalam bahaya karena dampak krisis iklim yang dirasakan di seluruh anak benua.

“Kasus kolera pertama kali diidentifikasi di Pir Koh, sebuah kota pegunungan terpencil di provinsi Balochistan, pada 17 April. Sejak itu, lebih dari 2.000 orang telah terinfeksi dan enam orang meninggal,” kata Pejabat Departemen Kesehatan Balochistan, Dr Ahmed Baloch, dilansir dari Saudi Gazette pada Rabu, 18 Mei 2022.

Penduduk di Pir Koh mengatakan mereka tidak memiliki akses ke air minum bersih. Kurangnya hujan tahun ini telah menyebabkan kolam-kolam di dekatnya mengering, dengan satu-satunya sumber air mereka adalah pipa yang telah berkarat dan mencemari pasokan air.

“Warga terpaksa minum air kotor,” kata warga setempat Hassan Bugti.

Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, telah memerintahkan tindakan bantuan darurat untuk mengekang wabah kolera di Pir Koh, dan militer telah dipanggil untuk membantu menyediakan tangki air bergerak untuk memastikan air minum bersih sampai ke penduduk dan mendirikan kamp medis untuk mengobati orang sakit.

BACA JUGA: Erdogan Kunjungi Arab Saudi Atas Undangan Raja Salman

Kolera adalah penyakit diare akut yang membunuh ribuan orang di seluruh dunia setiap tahun. Penularannya mudah, dengan mengonsumsi makanan atau air yang terkontaminasi bakteri feses Vibrio cholerae.

Para ilmuwan telah memperingatkan dampak parah dari perubahan iklim pada kesehatan manusia, dengan meningkatnya suhu mendorong penyebaran patogen berbahaya seperti kolera.

Wabah itu terjadi saat Pakistan menghadapi krisis air yang serius dan gelombang panas awal yang menurut Departemen Meteorologi Pakistan telah terjadi di seluruh negara itu sejak awal bulan.

Jacobabad, salah satu kota terpanas di dunia, di provinsi Sindh tengah, mencapai 51 derajat Celcius (123,8 derajat Fahrenheit) pada Ahad, dan 50 derajat Celcius (122 derajat Fahrenheit) sehari sebelumnya. Suhu tinggi rata-rata di kota bulan ini adalah sekitar 45 derajat Celcius (113 derajat Fahrenheit).

Cuaca panas ini sepertinya tidak akan segera reda. Sementara badai debu, angin kencang dan hujan yang tersebar dan badai petir membawa bantuan ke beberapa bagian negara itu selama beberapa hari terakhir, suhu diperkirakan akan meningkat kembali mulai Rabu, menurut Departemen Meteorologi Pakistan.

Menteri Perubahan Iklim Pakistan Sherry Rehman pada Senin, 16 Mei 2022, mengatakan Pakistan adalah salah satu negara yang paling mengalami tekanan air di dunia dan salah satu dari sepuluh yang paling rentan terhadap tekanan iklim.

“Bendungan utama negara itu berada pada tingkat mati sekarang, dan sumber air langka bahkan diperebutkan,” kata Rehman.

“Ini adalah krisis eksistensial yang mencakup semua dan harus ditanggapi dengan serius,” ujar dia menambahkan.

Pada musim panas 2015, gelombang panas menewaskan lebih dari seribu orang di kota terbesar Pakistan, Karachi.

Gelombang panas juga dirasakan tetangga Pakistan, India, di mana suhu di wilayah ibu kota Delhi melampaui 49 derajat Celcius (120 derajat Fahrenheit) pada Ahad.

Dalam beberapa bulan terakhir India telah mengalami gelombang panas yang parah yang melihat suhu maksimum rata-rata mencapai tertinggi dalam 122 tahun di barat laut India pada bulan April, dan di seluruh negeri pada bulan Maret.

Panas terik menembus tanda 49 derajat Celcius untuk pertama kalinya tahun ini di Delhi, dengan suhu mencapai 49,2 derajat Celcius (120,5 derajat Fahrenheit) di stasiun cuaca Mungeshpur Delhi dan 49,1 derajat Celcius (120,3 derajat Fahrenheit) di stasiun cuaca Najafgarh pada Agad, menurut Departemen Meteorologi India (IMD).

BACA JUGA: Belanda Berencana Hentikan Impor Minyak dan Gas Rusia

New Delhi telah menderita selama 14 hari pada Mei di atas 40 derajat Celcius (104 derajat Fahrenheit).

Gurgaon, barat daya New Delhi, mencatat suhu tertinggi sejak 10 Mei 1966, dengan 48,1 derajat Celcius (118,5 derajat Fahrenheit) pada hari Minggu, menurut IMD.

IMD memperkirakan beberapa bantuan untuk Delhi, dengan langit berawan dan cerah selama beberapa hari ke depan. Namun, dia memperkirakan suhu tinggi akan kembali di beberapa bagian wilayah itu pada akhir pekan ini.

Di beberapa negara bagian, panas telah memaksa sekolah untuk tutup, merusak tanaman dan memberi tekanan pada pasokan energi. Pejabat memperingatkan penduduk untuk tetap berada di dalam rumah dan tetap terhidrasi.

Pada Sabtu, India melarang ekspor gandum, beberapa hari setelah mengatakan pihaknya menargetkan pengiriman rekor tahun ini karena gelombang panas membatasi produksi dan harga domestik mencapai rekor tertinggi.

India sering mengalami gelombang panas selama bulan-bulan musim panas Mei dan Juni, tetapi tahun ini suhu mulai meningkat pada bulan Maret dan April.

India dan Pakistan termasuk di antara negara-negara yang diperkirakan paling parah terkena dampak krisis iklim, menurut Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC). Para ahli mengatakan perubahan iklim menyebabkan gelombang panas yang lebih sering dan lebih lama, mempengaruhi lebih dari satu miliar orang di kedua negara.

Penulis utama IPCC dan peneliti senior di Institut Permukiman Manusia India Dr Chandni Singh, mengatakan gelombang panas ini sedang menguji batas kemampuan manusia untuk bertahan hidup.

“Gelombang panas ini jelas belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Singh awal bulan ini. “Kami telah melihat perubahan dalam intensitas, waktu kedatangan, dan durasinya. Inilah yang diprediksi oleh para ahli iklim dan akan berdampak berjenjang pada kesehatan.

Artikel ini telah tayang sebelumnya di Republika.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *