JURNAL LENTERA, PARIMO – Polemik pendataan terhadap dampak banjir bandang di Kecamatan Torue dan Balinggi, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, diduga menjadi salah satu penyebab belum tersedianya data ril yang dirilis oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.
Hingga memasuki hari ke delapan pasca bencana dan ditetapkannya tanggap darurat bencana di Desa Torue, Kecamatan Torue sebagai wilayah terparah, BPBD Parimo belum merilis data lengkapnya.
Informasi yang dihimpun di lokasi bencana, Palang Merah Indonesia (PMI) dan Taruna Siaga Bencana (Tagana) setempat justru telah memiliki data ril di seluruh wilayah yang terdampak bencana.
Namun, kedua lembaga tanggap bencana ini masih menunggu BPBD Parimo untuk melakukan perampungan data ril selaku leading sektor dalam tanggap darurat bencana.
Dikonfirmasi terkait hal itu, Sekretaris BPBD Parimo, Rivai mengaku tidak ada permasalahan dalam pendataan dampak banjir yang terjadi di Kecamatan Torue Balinggi.
Hanya terjadi miskomunikasi, karena pihak Pemerintah Desa (Pemdes) yang terdampak juga memiliki data sendiri.
Sedangkan data milik Pemdes yang terdampak harus disinkronkan dengan data milik BPBD, PMI, Tagana, instansi maupun lembaga yang terlibat.
Menurutnya, data terkait dampak bencana sangat penting. Untuk menjaga keakuratan data dengan kondisi di lapangan harus dilakukan pencocokan terlebih dahulu sebelum dirampungkan.
“Takutnya data yang kami keluarkan tidak akurat dan hanya menjadi boomerang. Data lainnya sudah rampung, namun masih ada juga belum selesai seperti data jumlah Kepala Keluarga (KK) yang terdampak,” ujar Rivai, Kamis, 4 Agustus 2022.
BACA JUGA: Penjelasan Menteri PUPR soal Penanganan Banjir Torue
Dia juga mengaku BPBD telah melaksanakan pertemuan bersama Pemdes yang wilayahnya terdampak banjir serta Pemerintah Kecamatan.
Bahkan, pihak PMI bersama Tagana setempat juga turut hadir dalam pertemuan yang dilaksanakan pagi hingga siang hari tadi.
Pertemuan tersebut membahas terkait sinkronisasi data warga yang terdampak banjir hingga rumah rusak berat, ringan maupun hilang.
Menurutnya, terkait data terdampak banjir, BPBD Parimo tentu harus berhati-hati. Apalagi, dalam pendataan tersebut, juga melampirkan data kerusakan rumah yang memiliki golongan atau kategori masing-masing.
Contohnya penggolongan jenis kerusakan berat maupun ringan yang perlu melibatkan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis.
Sehingga, Pemdes maupun Kepala Dusun yang wilayahnya terdampak banjir meminta agar memastikan kembali di lapangan.
Salah satunya terkait data rumah rusak seluruh kategori. Sehingga sinkronisasi data terkait rumah rusak menjadi fokus kami. Targetnya sinkronisasi data terkait rumah rusak diselesaikan pada sore ini dan akan dirilis pada malam ini pula.
BACA JUGA: Operasi SAR Banjir Torue, Basarnas: Ada Petunjuk, Dilanjutkan
Dia juga menyebut, bencana banjir bukan hanya terjadi di Kecamatan Torue. Namun, juga terjadi di Kecamatan Balinggi.
Khusus Kecamatan Balinggi terdapat tiga desa, yakni Catur Karya, Balinggi Jati, Balinggi.
Sedangkan di Kecamatan Torue, yakni Desa Torue, Purwosari, Tanalanto, Tolai Barat, Tolai Timur, Tolai Induk, dan Astina.
“Seluruh data terdampak banjir sudah rampung dari seluruh seluruh terdampak Tinggal data rumah rusak saja akan masih kami sinkronkan,” tandasnya.
Laporan : Roy Lasakka Mardani











Respon (2)