Tren Kematian Ibu Hamil di Parigi Moutong Masih Tinggi

Tren Kematian Ibu Hamil di Parigi Moutong Masih Tinggi
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Parigi Moutong, Yasir Syam. (Foto: Istimewa)

JURNAL LENTERA, PARIGI MOUTONG – Tren kematian ibu hamil di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, masih tergolong tinggi dan menjadi perhatian serius pemerintah daerah.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Parigi Moutong mencatat, dalam tiga tahun terakhir angka kematian ibu hamil belum menunjukkan penurunan signifikan.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Parigi Moutong, Yasir Syam, mengungkapkan hingga April 2026, sudah terdapat dua kasus kematian ibu hamil.

“Dua kasus itu masing-masing terjadi di wilayah Kecamatan Tinombo dan Siniu. Keduanya disebabkan penyakit bawaan yang dialami saat kondisi hamil. Sehingga, saat meninggal tercatat sebagai ibu hamil,” ujar Yasir saat di temui pada Rabu, 22 April 2026.

Berdasarkan data Dinkes Parigi Moutong, pada 2024 tercatat sembilan kasus kematian ibu hamil. Kemudian meningkat menjadi 10 kasus pada 2025. Sementara pada 2026, hingga April telah tercatat dua kasus.

BACA JUGA:  Gratis! Dinkes Parigi Moutong Sediakan Layanan Kesehatan bagi Pemudik Lebaran

Sebagian besar kasus kematian ibu hamil sebelumnya dipicu oleh pendarahan yang berujung pada anemia. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Dinkes Parigi Moutong memperkuat kerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) dalam pemenuhan kebutuhan darah di fasilitas kesehatan.

“PMI saat ini aktif menggelar donor darah di berbagai OPD. Ini menjadi salah satu strategi untuk mendukung upaya pemerintah daerah dalam menekan angka kematian ibu hamil,” katanya.

Selain itu, Dinkes Parigi Moutong juga menggencarkan edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya menjaga kesehatan ibu hamil dan bayi. Edukasi tidak hanya menyasar ibu hamil, tetapi juga remaja dan calon pengantin.

Namun, ia menekankan pentingnya menghindari pernikahan usia dini karena berisiko terhadap kesehatan ibu dan bayi.

“Organ reproduksi yang belum siap dapat meningkatkan risiko dalam kehamilan,” ungkapnya.

BACA JUGA:  Wabup Parigi Moutong: Penerapan SPM Upaya Penuhi Pelayanan Masyarakat

Dari sisi pelayanan, ia memastikan tenaga kesehatan di puskesmas telah memiliki kompetensi dalam menangani kehamilan dan persalinan. Bahkan di wilayah terpencil, bidan desa disiagakan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.

“Harapan kami, berbagai upaya tersebut dapat menekan angka kematian ibu hamil, bayi, dan balita di Parigi Moutong,” tandasnya.

Laporan : Multazam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *