JURNAL LENTERA, PARIGI MOUTONG – Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng), H. Anwar Hafid, menegaskan komitmennya mempercepat hilirisasi komoditas lokal sebagai strategi meningkatkan nilai tambah hasil pertanian dan kesejahteraan petani.
Menurutnya, komoditas unggulan Sulteng tidak boleh lagi dipasarkan dalam bentuk bahan mentah, melainkan harus diolah di daerah agar manfaat ekonominya dinikmati masyarakat.
“Kita tidak mau lagi hasil kita dibawa keluar dalam bentuk mentah. Kita ingin diolah di sini supaya nilai tambahnya dinikmati masyarakat,” ujar Anwar Hafid saat menghadiri peringatan 50 Tahun Transmigrasi Unit 3 Desa Tinombala, Kabupaten Parigi Moutong, Sabtu, 6 Juli 2026.
Sulteng memiliki potensi besar di sektor pertanian dan perkebunan yang hingga kini belum dimanfaatkan secara optimal melalui industri pengolahan.
Sehingga, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulteng tengah membangun komunikasi dengan sejumlah investor, termasuk dari Tiongkok, guna mendorong investasi di sektor hilirisasi hasil pertanian.
Pembangunan industri pengolahan akan membuka peluang terciptanya lapangan kerja, meningkatkan daya saing produk lokal, sekaligus memperkuat perekonomian daerah. Salah satu komoditas yang dinilai memiliki prospek besar adalah kelapa.
Ia menyebut produk turunan kelapa memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi di pasar internasional dibandingkan jika dijual dalam bentuk bahan baku.
“Kelapa kita sangat potensial. Bahkan air kelapa di luar negeri bisa memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi dibandingkan di dalam negeri. Ini peluang yang harus dimanfaatkan,” katanya.
Untuk mendukung langkah tersebut, Pemprov Sulteng menjalankan program Berani Panen Raya yang difokuskan pada peningkatan produksi, pengolahan hasil panen, hingga memperluas akses pasar ekspor secara langsung.
Selain penguatan sektor pertanian, ia juga menekankan pentingnya pembangunan sumber daya manusia sebagai fondasi kemajuan Sulteng.
Melalui program Berani Cerdas, kata dia, Pemprov menghapus pungutan bagi siswa SMA, SMK, dan SLB negeri serta menyediakan beasiswa bagi pelajar dari keluarga kurang mampu.
“Kita tidak boleh lagi ada anak yang putus sekolah karena biaya. Pemerintah harus hadir. Target kita pada 2045 rata-rata pendidikan masyarakat minimal SMA,” ungkapnya.
Pada momentum peringatan 50 tahun Transmigrasi Unit 3 Desa Tinombala, ia pun mengajak masyarakat untuk terus menjaga semangat kebersamaan dan mendukung berbagai program pembangunan yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi kunci agar potensi pertanian Sulteng dapat diolah secara maksimal, memiliki daya saing tinggi, dan mampu menembus pasar nasional maupun internasional,” pungkasnya.
Laporan : Mifta’in











