Example 970x250

Polisi Selidiki Penyebab Tewasnya Remaja 18 Tahun di Banggai Usai Ditemukan Gantung Diri

Polisi Selidiki Penyebab Tewasnya Remaja 18 Tahun di Banggai Usai Ditemukan Gantung Diri
Ilustrasi gantung diri. (Foto: Istimewa)

JURNAL LENTERA, BANGGAI – Kepolisian Sektor (Polsek) Toili masih menyelidiki penyebab meninggalnya seorang remaja berinisial MY (18 tahun) usai ditemukan gantung diri di kediamannya di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, pada Selasa sore, 21 Juli 2026.

Menurut Kapolsek Toili IPTU I Putu Pratama Yoga, peristiwa tersebut pertama kali diketahui oleh kakak korban yang baru pulang bekerja dan mencari keberadaan adiknya di dalam rumah.

Bahkan, saksi sempat mencari korban dari satu ruangan ke ruangan lainnya, namun tidak menemukannya.

Kemudian, saksi melanjutkan pencarian ke bagian belakang rumah dan menemukan korban dalam meninggal dunia. Peristiwa itu langsung dilaporkan kepada pihak kepolisian yang langsung mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

BACA JUGA:  Masyarakat Banggai Dikenalkan dengan Fungsi Basarnas

“Penyebab pasti meninggalnya korban masih dalam proses penyelidikan. Sejauh ini, korban diketahui merupakan pribadi yang tertutup dan pendiam,” ujarnya.

Dari keterangan salah seorang teman dekat korban, kata dia, MY sebelumnya pernah bercerita mengenai persoalan keluarga, meski tidak dijelaskan secara rinci.

Rekannya juga menyebut korban sempat merasa kurang mendapat perhatian dari lingkungan pergaulannya di sekolah.

“Pihak keluarga menerima kepergian korban dan menolak dilakukan visum terhadap jenazah,” katanya.

Kepolisian juga mengimbau masyarakat agar lebih peduli terhadap kondisi psikologis anggota keluarga maupun orang-orang di sekitarnya. Jika seseorang menunjukkan perubahan perilaku yang mengarah pada tekanan emosional atau mengalami kesulitan kesehatan mental, diharapkan segera diberikan dukungan dan didorong untuk memperoleh bantuan dari tenaga profesional.

BACA JUGA:  Belasan Pelajar SMP di Banggai Kedapatan Hirup Lem Fox

“Pencegahan melalui kepedulian keluarga, lingkungan, dan akses terhadap layanan kesehatan mental menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko terjadinya peristiwa serupa,” pungkasnya.

Laporan : Mifta’in

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *