Desa Wukirsari Peraih Best Tourism Village UNWTO, Simbol Global Pariwisata Berbasis Kearifan Lokal

Desa Wukirsari Peraih Best Tourism Village UNWTO, Simbol Global Pariwisata Berbasis Kearifan Lokal
Menpar Widiyanti Putri Wardhana, bersama Wamenpar, Ni Luh Puspa, tengah mencoba sejumlah daya tarik seperti praktik membuat batik saat melakukan kunjungan kerja di Desa Wisata Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Provinsi DIY, Kamis, 23 Januari 2025. (Foto: Dok Kemenpar)

JURNAL LENTERA, BANTUL – Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana, melakukan kunjungan kerjanya di Provinsi DIY dengan mengunjungi Desa Wisata Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Kamis, 23 Januari 2025.

Menpar yang didampingi Wamenpar Ni Luh Puspa, mencoba sejumlah daya tarik seperti praktik membuat batik.

Menurut Widiyanti, pencapaian luar biasa yang telah diraih Desa Wisata Wukirsari turut mendorong geliat pariwisata Indonesia di mata dunia. Sehingga, ia mengaku sangat mengapresiasi pencapaian yang telah diraih Desa Wisata Wukirsari.

“Kami sangat bangga karena prestasi ini mencerminkan kekayaan budaya Indonesia dan sekaligus menjadikan simbol global pariwisata berbasis kearifan lokal,” ujarnya.

BACA JUGA: Tanggapan Menpar soal Insiden Pelecehan dan Rudapaksa Wisatawan Asing

Desa Wukirsari merupakan salah satu desa wisata terbaik Indonesia yang sebelumnya telah banyak meraih deretan penghargaan, salah satunya Best Tourism Village UNWTO 2024. Desa Wisata Wukirsari memiliki potensi pariwisata yang besar mulai dari keindahan alam hingga produk ekonomi kreatif, yang berfokus pada pengembangan edu-wisata dan eco-wisata.

BACA JUGA: Kolaborasi PlayStation dan Kemenekraf: Angkat Gim Lokal Indonesia ke Pentas Dunia

Sejak tahun 2007, Desa Wisata Wukirsari mengembangkan potensi yang menonjol di sektor ekonomi kreatif subsektor fesyen, yaitu kerajinan batik tulis melalui sentra Kampung Batik Giriloyo yang di dalamnya termasuk kegiatan belajar membatik.

BACA JUGA:  Upaya Perangi Eksploitasi Seksual Anak

Belajar membatik menjadi ajang bagi Wukirsari untuk mengenalkan warisan budaya dunia milik Indonesia yang telah ada di kawasan ini sejak tahun 1634.

Bukan sekadar ajang wisata, kegiatan ini menitikberatkan pada keterlibatan lebih dari 600 perajin batik sebagai pemandu wisata belajar batik. Sehingga setiap perkembangan dalam atraksi ini akan berimbas pada meningkatnya taraf hidup masyarakat yang berprofesi sebagai perajin batik.

Selain kerajinan masyarakat lokal yang menjadi daya tarik utama, tata letak geografis Desa Wukirsari juga sangat beragam. Mulai dari perbukitan, sungai, hutan, dan lahan pertanian yang membuat desa ini sangat asri.

Potensi-potensi yang diiringi dengan pengelolaan berkelanjutan oleh masyarakat, juga membawa Desa Wisata Wukirsari meraih deretan penghargaan lainnya. Seperti ASEAN Homestay Award di tahun 2016, juara 1 Desa Wisata Maju Tahun 2023, hingga penetapan UNESCO atas Batik Giriloyo sebagai Warisan Budaya Tak Benda sejak 2009. Selain itu Desa Wukirsari juga telah menerima sertifikasi Desa Wisata Berkelanjutan wisata pada 2022.

BACA JUGA:  Yusril: Sejak Awal UU Cipta Kerja Sudah Bermasalah

“Tentunya ini semua adalah hasil dari dedikasi yang konsisten dan buah dari kolaborasi yang baik dari seluruh pihak yang terlibat. Mulai dari pemerintah daerah, pengelola desa wisata, pelaku UMKM, komunitas lokal, hingga mitra strategis lainnya,” katanya.

Ia berharap, Desa Wukirsari bisa menjadi contoh dalam mengintegrasikan prinsip keberlanjutan pada aspek pengelolaan destinasi wisata, sosial ekonomi, budaya, dan lingkungan.

“Ke depan kami berharap Desa Wisata Wukirsari dapat terus berinovasi tanpa melupakan akar tradisinya. Terutama dalam perspektif pariwisata yang berkelanjutan. Mari kita turut menciptakan produk dan jasa pariwisata yang tidak hanya memiliki daya saing global tapi juga wadah lingkungan dan berbasis pada pemberdayaan komunitas,” ungkapnya.

Laporan : Multazam

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *