JURNAL LENTERA, JAKARTA – Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, mendorong pembentukan kelembagaan ekonomi kreatif di daerah sebagai langkah strategis memperkuat ekosistem ekonomi kreatif nasional.
Menurutnya, ekonomi kreatif bisa menjadi sumber pertumbuhan baru saat sumber daya alam (SDA) mulai menipis.
“Saat kekayaan alam habis, ekonomi kreatif hadir sebagai tambang baru. Banyak daerah yang berkembang karena budaya dan kreativitas masyarakatnya yang kuat,” ujar Riefky dalam rapat koordinasi nasional (Rakornas) penguatan kelembagaan dan ekosistem ekonomi kreatif daerah yang digelar di salah satu hotel di Jakarta, Selasa, 8 Juli 2025.
Rakornas ini, juga menjadi ajang penandatanganan Nota Kesepahaman antara Kementerian Ekraf dan BPJS Ketenagakerjaan, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, serta Badan Pengelola Masjid Istiqlal.
BACA JUGA: Mendagri Pacu Pemda Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi, Target Nasional 8 Persen pada 2029
Kerja sama ini meliputi perlindungan jaminan sosial bagi pelaku ekonomi kreatif, dukungan pembiayaan melalui kredit perbankan, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia dan kegiatan tematik.
BACA JUGA: Upaya Pemerintah Menjaga Kredibel dan Responsif APBN 2025
Langkah ini merupakan kelanjutan dari Surat Keputusan Bersama (SKB) antara Kementerian Ekraf dan Kementerian Dalam Negeri yang ditandatangani pada 10 Desember 2024. SKB tersebut menjadi dasar hukum pembentukan dinas ekonomi kreatif di daerah. Baik melalui penggabungan dengan dinas yang telah ada maupun pembentukan unit mandiri.
“Dinas Ekraf adalah garda terdepan dalam mengurus pelaku ekonomi kreatif dan menumbuhkan pengusaha baru. Mereka butuh pendampingan, bukan hanya program satu arah,” katanya.
Ia mengaku optimistis Indonesia memiliki peluang menciptakan fenomena global seperti Korean Wave lewat penguatan narasi budaya dan produk kreatif lokal.
Hingga pertengahan 2025, sebanyak 19 provinsi dan 56 kabupaten/kota telah memiliki dinas ekonomi kreatif. Kementerian Ekraf menargetkan 78 persen provinsi memiliki dinas tersebut pada akhir tahun. Meskipun baru 15 persen kabupaten/kota yang terbentuk, Riefky menyebut ini sebagai awal yang positif.
“Orkestra ekonomi kreatif nasional akan menjadi melodi yang indah ketika semangatnya datang dari daerah,” ungkapnya.
Laporan : Multazam











