JURNAL LENTERA, PALU – Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng) Anwar Hafid, mendorong agar nilai-nilai Pancasila menjadi dasar dalam setiap proses pembangunan dan perumusan kebijakan publik.
Menurutnya, pembangunan yang berlandaskan Pancasila akan mampu menghadirkan keadilan sosial, menjamin hak-hak masyarakat, serta memastikan tidak ada warga yang tertinggal dari hasil pembangunan.
“Pastikan setiap kebijakan publik yang lahir berlandaskan keadilan sosial, memenuhi rasa keadilan publik, menjamin hak-hak masyarakat terkecil, dan tidak membiarkan ada rakyat yang merasa ditinggalkan,” ujar Anwar Hafid saat memimpin upacara peringatan Hari Lahir Pancasila di Lapangan Pogombo Kantor Gubernur Sulteng, Senin, 1 Juli 2026.
Menurut Anwar Hafid, pesan yang disampaikan dalam sambutan tertulis Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menjadi pengingat bagi seluruh penyelenggara pemerintahan untuk terus mengarusutamakan nilai-nilai Pancasila dalam setiap program dan kebijakan pembangunan, termasuk di Sulteng.
Pembangunan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau pembangunan fisik semata. Tetapi, juga dari sejauh mana masyarakat merasakan manfaatnya secara merata dan berkeadilan.
Selain itu, pemerintah daerah juga didorong untuk terus memperkuat toleransi, menjaga kerukunan sosial, serta menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda sebagai fondasi dalam menjaga persatuan bangsa.
“Mari kita tunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah bangsa besar yang menjunjung tinggi religiusitas, semangat persatuan, dan kuat karena nilai-nilai kemanusiaannya,” katanya.
Peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini yang mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia” menegaskan pentingnya Pancasila tidak hanya sebagai dasar negara. Tetapi, juga sebagai pedoman dalam membangun kehidupan yang damai, adil, dan harmonis di tengah keberagaman.
Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila memiliki relevansi yang kuat dalam menjawab berbagai tantangan sosial dan global. Sekaligus menjadi modal utama dalam menjaga persatuan bangsa.
“Kita ingin dunia melihat bahwa perdamaian bukan sekadar ketiadaan perang, melainkan hadirnya keadilan bagi seluruh umat manusia,” tandasnya.
Laporan : Mifta’in











