Example 970x250
Ragam  

Prof. Zainal Abidin Sebut Pertengkaran Agama Bukan Soal Iman, Tapi Ego

Prof. Zainal Abidin Sebut Pertengkaran Agama Bukan Soal Iman, Tapi Ego
Prof. Dr. KH. Zainal Abidin. (Foto: Istimewa)

JURNAL LENTERA, PALU – Di tengah maraknya perdebatan keagamaan yang kerap memicu kegaduhan dan perpecahan di ruang publik, Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus tokoh moderasi nasional, Prof. Dr. KH. Zainal Abidin, M.Ag., menegaskan bahwa pertengkaran atas nama agama tidak berkaitan dengan kedalaman iman. Melainkan dipicu oleh ego dan minimnya penguasaan ilmu.

Menurutnya, agama sejatinya tidak pernah mengajarkan pertikaian. Konflik yang muncul justru lahir ketika seseorang memaksakan pandangannya agar diikuti dan diakui sebagai satu-satunya kebenaran.

“Orang yang bertengkar dalam hal agama sebenarnya bukan karena ilmu agama atau sebagai ilmuwan agama, melainkan karena tidak menguasai ilmu agama dan mengumbar pendapat seenaknya sendiri,” tulis Prof. Zainal dalam refleksi yang dibagikannya, Selasa, 13 Januari 2026.

Guru Besar UIN Datokarama Palu itu menilai, fenomena saling hujat akibat perbedaan pandangan keagamaan bukanlah cerminan keteguhan iman, melainkan ekspresi ego yang merasa terancam oleh perbedaan.

BACA JUGA: Prof Zainal Abidin Tekankan Toleransi dan Moderasi di Perayaan Natal Nasional

BACA JUGA:  Telkom Naik Peringkat di Forbes 2022 World's Best Employer, Erick Thohir: Bukti Kita Bisa Bersaing di Pentas Global

Untuk memperkuat pandangannya, Prof. Zainal mengajak publik menengok sejarah intelektual Islam yang sarat dengan perbedaan pendapat. Namun, tetap dijalani dengan adab dan sikap saling menghormati.

BACA JUGA: FKUB Sulteng Ajak Masyarakat Perkuat Moderasi Beragama di Hari Toleransi Internasional

Ia pun mencontohkan perbedaan pandangan antara dua imam besar, Imam Malik dan muridnya, Imam Syafi’i, terkait konsep rezeki.

Imam Malik berpandangan bahwa rezeki akan datang melalui ketakwaan dan tawakal yang sungguh-sungguh.

Sementara itu, Imam Syafi’i meyakini bahwa rezeki harus diupayakan melalui ikhtiar dan kerja nyata. Meski berbeda pandangan, keduanya tidak pernah saling menjatuhkan atau mempertentangkan perbedaan tersebut secara emosional.

“Mereka menguasai ilmu secara mendalam. Sehingga, memahami bahwa perbedaan pemahaman adalah rahmat, bukan alasan untuk bertengkar apalagi sampai memutus silaturahmi,” ujarnya.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) itu menjelaskan, kecenderungan mudah tersulut emosi dalam perkara agama saat ini berakar pada dangkalnya penguasaan ilmu.

BACA JUGA:  Bawaslu Parimo Ajak Pelajar Awasi Pemilu 2024

Orang yang minim pemahaman akan merasa terancam oleh perbedaan dan cenderung mengedepankan ego ketimbang nalar dan adab.

“Agama tidak mengajarkan pertengkaran. Jika ada yang bertengkar, maka yang dikedepankan adalah egonya, bukan ilmunya. Ilmuwan agama yang sejati akan selalu membawa keteduhan, bukan kegaduhan,” tegas Prof. Zainal.

Ia lantas mengingatkan masyarakat di era banjir informasi agar terus memperluas wawasan dan menjaga sikap dalam menyikapi perbedaan.

“Semakin luas ilmu seseorang, semestinya semakin lapang pula sikapnya dalam menerima keberagaman pandangan dan pemikiran keagamaan,” tandasnya.

Laporan : Miswar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *