JURNAL LENTERA, PALU – Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Sulawesi Tengah (Sulteng) memperkuat kesiapsiagaan personelnya dalam menghadapi situasi bencana. Salah satu langkah konkret dilakukan melalui pelatihan Disaster Victim Identification (DVI) dan Food Safety yang digelar selama tiga hari, sejak Kamis hingga Sabtu, 18 Oktober 2025.
Kegiatan pelatihan yang diikuti sebanyak 26 personel kepolisian dari berbagai satuan ini dilaksanakan di salah satu hotel di Kota Palu.
Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan teknis personel dalam penanganan korban bencana sekaligus memastikan keamanan pangan di situasi darurat.
BACA JUGA: HUT ke-70, Ditlantas Polda Sulteng Hadirkan Kepedulian Lewat Donor Darah
Selain menerima materi teori di ruang kelas, peserta juga melaksanakan latihan praktik lapangan di Kantor SPPG Polda Sulteng guna mengasah keterampilan identifikasi korban serta prosedur penanganan yang cepat dan tepat di lapangan.
BACA JUGA: RS Bhayangkara Palu Kini Miliki Gedung VVIP, Kapolda Sulteng: Tingkatkan Kepercayaan Publik
Bahkan, kegiatan pelatihan ini menghadirkan delapan narasumber dari berbagai instansi. Empat di antaranya berasal dari internal Biddokkes Polda Sulteng dengan materi seputar keamanan pangan, ante mortem, post mortem, dan proses rekonsiliasi DVI.
Sementara empat pemateri eksternal berasal dari Dinas Kesehatan (Dinkes), BNPB, Basarnas, dan Sie Identifikasi Ditreskrimum Polda Sulteng yang memberikan pembekalan terkait analisis DNA, mitigasi bencana, jalur evakuasi, serta teknik evakuasi dan pemindahan korban.
Kabiddokkes Polda Sulteng, Kombes Pol dr. Edi Syahputra Hasibuan, M.H.Kes, Sp.F., MARS, menekankan kesiapan personel Dokkes tidak hanya diukur dari kemampuan teknis. Namun, juga empati dan ketanggapan dalam menjalankan tugas kemanusiaan.
“Pelatihan ini bukan sekadar formalitas, tetapi langkah nyata untuk memperkuat kapasitas personel menghadapi tantangan di lapangan. Kesiapan dan kemampuan teknis harus berjalan seiring dengan empati dalam tugas kemanusiaan,” ujarnya.
Ia menegaskan pentingnya sinergi antarinstansi dalam penanganan bencana dan keamanan pangan. Terutama, untuk memastikan makanan yang didistribusikan oleh SPPG layak dikonsumsi oleh masyarakat penerima manfaat.
Ia lantas mengajak seluruh peserta untuk mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama pelatihan agar dapat diterapkan dalam tugas sehari-hari.
“Hasil dari pelatihan ini harus diwujudkan dalam pelayanan kesehatan yang profesional, humanis, dan siap mendukung Indonesia menuju visi Emas 2045,” pungkasnya.
Laporan : Mifta’in











Respon (1)