Ragam  

Perlawanan Tombolotutu: Pasukan Elit Belanda dan Emas di Moutong

Lukman Nadjamuddin/Istimewa

JURNAL LENTERA – Keberadaan penjajah Belanda di wilayah pesisir Teluk Tomoni tak terlepas dari upaya untuk menguasai sumber daya alam nusantara. Di ujung utara Kabupaten Parigi Moutong Provinsi Sulawesi Tengah pada masa kolonial, telah dikelolah tambang emas di Desa Lobu Kecamatan Moutong.

Inilah salah satu alasan kenapa Belanda datang dan ingin menguasai pertambangan emas, yang konon mempunyai kadar emas tertinggi dibanding beberapa wilayah tambang rakyat di Kabupaten Parigi Moutong.

“Jadi Belanda hadir di Moutong ketika itu memang atas motif ekonomi. Bukan yang lain. Inilah yang membuat Tombolotutu tidak nyaman,” jelas Dr. Lukman Nadjamudin, Sejarawan Uiversitas Tadulako (Untad) kepada Jurnal Lentera, Jumat 29 Oktober 2021.

Menurut Lukman, sosok Tombolotutu pada masa itu menjadi salah satu tokoh yang akan menjadi raja berdasarkan legitimasi masyarakat. Sayangnya penjajah Belandah tidak melegitimasi itu. Alasannya, Tombolotutu dianggap sebagai tokoh yang selalu berseberangan dan menjadi ancaman bagi pemerintahan kolonial.

“Pilihan untuk berseberangan dengan Tombolotutu oleh pemerintah Belanda di Moutong itu sesungguhnya keliru. Karena resikonya justeru lebih banyak, termasuk menelan korban lebih banyak dalam pertempuran di Moutong. Mestinya mereka (Belanda) lebih kooperatif membangun kerjasama dengan Tombolotutu,” jelas Lukman.

Namun meskipun kebijakan itu dilakukan kata Lukman, belum tentu Tombolotutu menerima. Sebab semangat untuk mempertahankan daerahnya agar tidak dieksploitasi secara besar-besaran, terutama terkait pengelolaan tambang emas, menjadi semangat yang tumbuh dalam diri Tombolotutu.

“Kemudian tidak memberi akses lebih leluasa kepada pihak Belanda, itu menjadi bagian yang sudah tertanam begitu kuat dalam dirinya (Tombolotutu). Sehingga apa pun yang dilakukan Belanda, termasuk berkompromi, bukan menjadi sesuatu yang menguntungkan bagi Tombolotutu dan masyarakatnya,”.

Karena pilihan itulah kata Lukman, Tombolotutu harus menerima konsekuensi, meninggal dalam pertempuran pada 17 Agustus 1901. Dan itulah akhir dari perjuangannya dalam mempertahankan wilayahnya dari penjajahan Belanda.

Meski demikian kata Lukman, pihak Belanda ternyata sebelumnya juga kewalahan dalam menghadapi kekuatan Tombolotutu dan pengikutnya. Bahkan mereka harus menurunkan pasukan bayaran Marsose untuk menggempur kekuatan gerakan Tombolotutu.

“Ini yang menarik. Belanda harus menurunkan Marsose. Itu adalah pasukan elit Belanda pada masa itu. Ini artinya, bahwa Tombolotutu pada masa itu adalah kekuatan besar di luar Belanda yang betul-betul mengancam keberadaan meraka, dan mengganggu stabilitas serta membuat Belanda tidak nyaman,” jelas Lukman.

Selain itu kata Lukman, gerakan Tombolotutu di Moutong ternyata menjadi perdebatan menarik di parlemen Belanda. “Itu artinya, bahwa apa yang dilakukan tidak hanya sebatas di Hindia Belanda (Nusantara), tapi juga menjadi pembicaraan lintas negara. Terutama terkait sikap Belanda yang tidak kooperatif dan lebih memilih berlawanan dengan Tombolotutu, sehingga menimbulkan korban yang banyak di pihak Belanda, dan membutuhkan waktu juga untuk menaklukkan Tombolotutu,” jelasnya.

BACA JUGA: Tombolotutu Jadi Pahlawan Nasional Pertama di Sulteng

BACA JUGA: Penting Diketahui, Ini Syarat-syarat Yang Dipenuhi Tombolotutu Jadi Pahlawan Nasional

VIDEO FAKTA-FAKTA TOMBOLOTUTU JADI PAHLAWAN NASIONAL

Laporan: M. Sahril

Respon (3)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *