Example 970x250
Ragam  

Kurangnya Pelaku Usaha di Parigi Moutong Menjadi Momok Besar di Sektor Perdagangan Laut

Kurangnya Pelaku Usaha di Parigi Moutong Menjadi Momok Besar di Sektor Perdagangan Laut
Fungsional Bidang Perindustrian dan Perdagangan di Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Parigi Moutong Zulkifli. (Foto: MOH. REZA FAUZI/JurnalLentera.com)

JURNAL LENTERA, PARIGI MOUTONG – Sebagai negara maritim, peran tol laut di Kabupaten Parigi Moutong menjadi aset penting sebagai moda transportasi di sektor perdagangan guna memperlancar distribusi barang, jasa, hingga modal demi menstabilkan harga bagi daerah terpencil, terluar, dan perbatasan.

Beberapa bahan pokok seperti beras dan minyak kelapa menjadi pengiriman utama yang rutin didistribusikan dari Kabupaten Parigi Moutong ke daerah seperti Bitung di Provinsi Sulawesi Utara, Provinsi Gorontalo, Kabupaten Tojo Una-una dan Morowali. Hanya, yang menjadi fokus pendistribusian Kabupaten Parigi Moutong saat ini hanya ke daerah Bitung.

BACA JUGA: Kejati dan Disperindag Sulteng Kerja Sama Gelar Pasar Murah

Menurut Fungsional Bidang Perindustrian dan Perdagangan di Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Parigi Moutong Zulkifli, ada beberapa barang pokok yang seharusnya bisa didistribuskan dari daerah setempat, seperti minyak goreng, kelapa, sabun mandi, telur, dan lain sebagainya. Namun, dikarenakan kurangnya pelaku usaha di daerah yang menjadi sasaran dan Kabupaten Parigi Moutong sendiri, hingga mengakibatkan produk atau barang yang didistribusikan tidak seimbang. Sehingga Kabupaten Parigi Moutong hanya dapat mendistribusikan beras dan kelapa.

BACA JUGA:  Wagub Sulteng Salurkan Bantuan Sosial

“Maksud dari tidak seimbang itu, contohnya kami mendistribusikan beras dan kelapa, sedangkan daerah yang menjadi sasaran pengiriman hanya mendistribusikan air mineral kemasan dan semen. Sebenarnya pemerintah menyarankan untuk pengiriman bahan pokok lainnya seperti minyak dan telur. Semua terkendala karena kurangnya pelaku usaha di daerah tujuan maupun di Kabupaten Parigi Moutong sendiri,” ujar Zulkifi, kepada media ini di ruang kerjanya, Senin, 6 Mei 2024.

BACA JUGA: Disperindag Sulteng Mendorong Pelaku Usaha Manfaatkan UPT PSMB

Tidak hanya itu, kurangnya pelaku usaha juga berdampak buruk terhadap beberapa pelabuhan seperti di Kecamatan Tinombo. Menurutnya, kapal yang seharusnya melakukan aktifitas bongkar muat terpaksa hanya sekedar singgah dikarenakan kurangnya konsinyasi atau pelaku usaha.

Masalah lainnya juga datang dari persoalan lamanya waktu perjalanan kapal hingga menjadi salah satu faktor utama kurangnya minat pelaku usaha. Beberapa dari mereka lebih memilih jalur darat sebagai moda transportasi, karena terbilang cepat. Selain itu, permintaan yang tidak sesuai dengan kapasitas kontainer di tol laut membuat proses pengiriman terhambat. Contohnya pengiriman batang kelapa yang panjangnya tidak sesuai dengan ukuran kontainer. Menurut para pelaku usaha menggunakan transportasi lau memakan waktu yang lama, karena harus singgah di pulau-pulau di sekitar jalur perlintasan.

BACA JUGA:  Ahmad M. Ali Ingatkan Polisi saat Reses di Parimo

Padahal, dengan adanya tol laut, harga bahan pokok dapat disubsidi dengan baik oleh pemerintah dibandingkan harga komersil yang terbilang mahal. Sehingga, ia menyarankan, bagi pelaku usaha setidaknya mengimpor barang dari luar Kabupaten Parigi Moutong seperti Surabaya dan sekitarnya.

“Kami berharap, para pelaku usaha lebih jeli melihat peluang yang ada,” tandasnya.

Laporan : Moh. Reza Fauzi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *