JURNAL LENTERA – Raja Tombolotutu akhirnya mendapatkan tempat yang layak atas perjuangannya melawan penjajah Belanda di Nusantara. Atas upaya berbagai pihak, pemerinah, akademisi dan keluarga, Tombolotutu dianugerahi pahalwan nasional berdasarkan Keputusan Presiden nomor 109/TK/2021.
Hari ini, Rabu 10 November 2021, keturunan Timbolotutu diundang untuk menerima penghargaan tersebut di Jakarta, bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan.
Tentu ini menjadi suatu kebanggaan bagi warga Sulteng. Tombolotutu adalah Pahlawan Nasional pertama asal daerah dengan julukan mutiara katulistiwa ini.
Namun demikian, belum banyak yang tahu tentang fakta lain dari Tombolotutu, terutama soal tahun wafat dan pergerakannya saat bergerilya melawan Belanda. Dari penelusuran Jurnal Lentera, setidaknya ada sejumlah artikel dan buku yang menunjukkan perbedaan.
Tahun Wafat
Terkait tahun wafatnya Tombolotutu, ada sejumlah versi. Dr, Lukman Nadjamuddin dalam bukunya “Bara Perlawanan di Teluk Tomini” menyebutkan bahwa Tombolotutu meninggal pada tahun 17 Agustus 1901, merujuk pada data pada surat kabar Belanda.
Sementara pada buku yang ditulis sejarawan Haliadi Sadi, SS, M.Hum., Ph.D, Tombolotutu masih terlibat perang Sojol pada 1905. Data tersebut sejalan dengan yang tercantum dalam buku “Tadulako Mitos atau Fakta” yang ditulis Danrem 132 Tadulako, Brigjen TNI Farid Makruf, MA bersama tim yang terbit tahun 2021. Dalam buku tersebut dicantumkan, bahwa perjuangan Tombolotutu antara tahun 1898 hingga 1938.
Fakta lain yang juga menarik untuk diketahui adalah keberadaan keluarga keturunan Tombolotutu di Desa Kaleke Kabupaten Sigi. Ahmad Faizal, Cicit dari Tombolotutu dari pernikahannya dengan Darasia, menjelaskan kepada Jurnal Lentera bahwa mereka adalah keturunan dari isteri terakhir Tombolotutu.
Dalam tulisannya di blog pribadinya “Pena Bulu”, Faizal menuliskan bahwa pernikahan Tombolotutu dengan Darasia melahirkan empat anak, masing-masing; Lamasalindi Tombolotutu, Karamalipu Tombolotutu, Andi Yetji Tombolotutu dan Sidik Tombolotutu. Faizal mengaku anak dari Sidik Tombolotutu.
Faizal, kepada Jurnal Lentera juga mencoba memberi perbandingan tentang apa yang ditulis dalam buku “Bara Perawanan di Toluk Tomini” dengan apa yang ia ketahui melalui pencariannya kepada sumber melalui catatan keluarganya.
Peristiwa Ujularit yang konon menewaskan Tombolotutu bersama para pengawalnya menurut Faizal merupakan kontroversi.
“Karena saat melihat jasad Tombolotutu, saudara seibu beliau, Pue Dalolo (Makarau) dan Pawajoi (Matoa) tidak mau menunggu prosesi pemakaman dan berpesan agar makam jangan diberi nisan karena mereka yakin bahwa adiknya belum wafat,” kata Faizal, berdasarkan dengan cerita dari kakeknya.
Tiga Makam Tombolotutu
Bukan hanya itu, fakta makam Tombolotutu yang berada di Desa Toribulu juga masih menjadi tanda tanya, apakan benar makam tersebut adalah makam sebenarnya Raja Tombolotutu.
Dalam penelusuran Jurnal Lentera, setidaknya ada 3 makam yang diklaim merupakan makam Tombolotutu. Yang pertama di Toribulu Kecamatan Toribulu, kedua di Ketong, Kecamatan Balaesang dan yang terakhir di Desa Kaleke Kecamatan Dolo Barat.
“Makam di Toribulu kontroversi. Tapi diakui oleh Belanda sesuai hasil laporan residen Manado yang dikutip Koran De Telegraaf di Belanda. Makam di Ketong, Balaesang Tanjung bertentangan dengan data Belanda. Ada keterangan yang kami temukan bahwa makam tersebut merupakan makam Kaleolangi, kerabat Beliau yang turut membantu sekaligu Olongian Sojol di Bou,” jelas Faizal.
Sementara makam di Kaleke kata Faizal, menyisakan keturunan, pusaka berupa keris, serta saksi sejarah yang tidak dicatat oleh Belanda.
Ia menyayangkan, setidaknya ada 3 kali penulis sejarah dan pemerhati yang melakukan penelitian di Kaleke, tidak menuliskan fakta itu.
Asal Muasal Tombolotutu
Soal lain yang tidak banyak diungkap adalah Tombolotutu mewarisi tahta Kerajaan Moutong dan memang adalah Raja yang Sah dari ayahnya, Puang Massu anak dari Puang Magalatu bin Puatta I Kacci bin Tomessuq di Salasa’na, berdarah Sendana Mandar.
Sedangkan ibunya juga merupakan bangsawan Mandar yang berkerabat dekat dengan ayahnya. Tombolotutu mewarisi tahta karena mengikuti jalur bapaknya, seperti dituliskan Faizal dalam blog pribadinya.
Tombolotutu bahkan menitipkan fakta sejarah bagaimana peristiwa Ujularit terjadi karena adanya pengkhianatan dari kerabat sendiri. kata Faizal.
“Tombolotutu enggan melewati wilayah Toribulu melalui jalur darat, saat kembali ke Tada, karena kekecewaan mendalam selama beliau memilih mengasingkan diri dan melawan dalam bayang-bayang kekuasaan Belanda dengan menjalin hubungan baik bersama magau Dolo “Datu Pamusu” sebagai pelindung beliau di Dolo, Kaleke.” jelasnya.
BERITA TERKAIT:
Mulhanan Wakili Keluarga Menerima Penganugerahan Pahlawan Nasional Tombolotutu
Perlawanan Tombolotutu: Pasukan Elit Belanda dan Emas di Moutong
Tombolotutu Jadi Pahlawan Nasional Pertama di Sulteng
Laporan: M. Sahril











Respon (2)