Ragam  

Pemprov Sulteng Dukung Pendekatan RSD untuk Penyelesaian Konflik Sosial

Pemprov Sulteng Dukung Pendekatan RSD untuk Penyelesaian Konflik Sosial
Kegiatan RSD yang dilaksanakan Yayasan AMAN Indonesia yang digelar di salah satu hotel di Kota Palu, Jum'at, 29 Agustus 2025. (Foto: Dok BIRO ADPIM)

JURNAL LENTERA, PALU – Yayasan AMAN Indonesia menggelar forum berbagi praktik baik dan pembelajaran dari pendekatan Reflective Structured Dialogue (RSD) dalam pemulihan korban terorisme dan resolusi konflik.

Kegiatan ini resmi dibuka Asisten Pemerintahan dan Kesra Pemprov Sulawesi Tengah (Sulteng), Dr. Fahrudin, S.Sos., M.Si, di salah satu hotel di Kota Palu, Jum’at, 29 Agustus 2025.

Forum yang menghadirkan organisasi perangkat daerah, lembaga non-pemerintah, akademisi, serta penyintas konflik tersebut disebut sebagai ruang strategis untuk memperkuat imunitas sosial di Sulteng.

Fahrudin menyampaikan harapan agar pendekatan RSD dapat diadopsi lebih luas dalam penyelesaian berbagai konflik di daerah.

BACA JUGA: Pemprov Sulteng Siapkan Smart Fishing dan VMS Dorong Produktivitas Nelayan

Menurutnya, RSD terbukti mampu menjembatani perbedaan perspektif dan menghadirkan penyelesaian yang inklusif.

BACA JUGA:  Fokus IKN, Simak Penjelasan Dinas KUKMPerindag PPU

BACA JUGA: BCA Dorong UMKM Sulteng Raih Sertifikasi Halal, Buka Peluang Pasar Global

“Saat ini ada Satgas Penyelesaian Konflik Agraria (PKA), Tim Terpadu Penanganan Konflik Sosial (TTPKS) di Kesbangpol, serta Satgas Tambang di Dinas ESDM. Pola RSD bisa diterapkan dalam mediasi konflik di tim-tim tersebut,” ujarnya.

Ia pun mengingatkan dampak destruktif dari konflik horizontal yang pernah melanda Kabupaten Poso. Ia menegaskan pengalaman pahit itu harus menjadi pelajaran berharga agar tidak terulang.

“Para korban jangan hanya dipandang sebagai penerima bantuan, tetapi sebagai individu yang berhak atas pemulihan bermartabat. Luka bisa disembuhkan, trauma bisa dipulihkan, dan masa depan bisa dibangun kembali selama ada niat dan kerja sama,” ungkapnya.

Sementara itu, Manajer Inovasi Desain dan Monitoring Evaluasi Yayasan AMAN, Gufran, menuturkan pendekatan RSD sebelumnya telah digunakan dalam pemulihan trauma penyintas kekerasan di Lembantongoa, Sigi, pada 2020. Hasil dari proses tersebut kemudian dibagikan sebagai pembelajaran berharga dalam forum ini.

BACA JUGA:  Saat Bertemu Prancis, Belanda Tidak Akan Diperkuat De Jong

“RSD adalah model pendekatan baru untuk pencegahan radikalisme, ekstremisme, dan terorisme. Harapannya, ini dapat mendorong lahirnya masyarakat yang tangguh dan harmonis,” tandasnya.

Laporan : Mifta’in

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *