Example 970x250

Menkeu Optimistis Defisit APBN 2026 Bisa Lebih Rendah

Menkeu Optimistis Defisit APBN 2026 Bisa Lebih Rendah
Menkeu Purbaya, saat memaparkan realisasi sementara APBN 2025 dalam konferensi pers APBN KiTA di Jakarta, Kamis, 8 Januari 2026. (Foto: Dok Kemenkeu)

JURNAL LENTERA, JAKARTA – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan optimisme bahwa defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun dapat ditekan ke level yang lebih rendah. Menyusul membaiknya fondasi perekonomian nasional serta menguatnya momentum pertumbuhan ekonomi ke depan.

Menurutnya, pengelolaan fiskal yang disiplin di tengah tekanan global menjadi modal penting untuk menjaga keberlanjutan APBN.

“Dengan membaiknya fondasi ekonomi dan momentum pertumbuhan yang semakin kuat, kita optimistis defisit APBN 2026 bisa ditekan lebih rendah dengan dampak pertumbuhan ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat,” ujar Purbaya saat memaparkan realisasi sementara APBN 2025 dalam konferensi pers APBN KiTA di Jakarta, Kamis, 8 Januari 2026.

BACA JUGA: Kemenimipas Perketat Pengamanan, Putus Mata Rantai Narkoba di Pemasyarakatan

Ia menjelaskan, sepanjang 2025 APBN tetap mampu menunjukkan kinerja yang solid meski dihadapkan pada dinamika global dan domestik yang penuh tantangan. Pendapatan negara tercatat mencapai Rp2.756,3 triliun atau 91,7 persen dari outlook laporan semester sebesar Rp2.865,5 triliun.

BACA JUGA: Ekonomi Kreatif Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi Nasional 2025

BACA JUGA:  Program Berani Sehat Sulteng Diapresiasi Menkes, Akses Kesehatan Warga Semakin Terjamin

Pendapatan tersebut didorong oleh penerimaan perpajakan sebesar Rp2.217,9 triliun atau 89 persen dari target Rp2.387,3 triliun.

Rinciannya, penerimaan pajak mencapai Rp1.917,6 triliun atau 87,6 persen dari target. Sementara penerimaan kepabeanan dan cukai hampir menyentuh target dengan realisasi Rp300,3 triliun atau 99,6 persen.

“Selain itu, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) menunjukkan kinerja melampaui target dengan realisasi Rp534,1 triliun atau 104 persen dari target Rp477,2 triliun. Penerimaan hibah juga tercatat Rp4,3 triliun atau 733,3 persen dari target,” jelas Purbaya.

Di sisi belanja, realisasi belanja negara mencapai Rp3.451,4 triliun atau 95,3 persen dari outlook laporan semester sebesar Rp3.527,5 triliun.

Belanja pemerintah pusat terealisasi Rp2.602,3 triliun, terdiri atas belanja kementerian/lembaga Rp1.500,4 triliun dan belanja non-kementerian/lembaga Rp1.102 triliun. Sementara itu, transfer ke daerah telah disalurkan sebesar Rp849 triliun.

Dengan pengelolaan tersebut, defisit APBN 2025 tercatat tetap terkendali pada level 2,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) atau setara Rp695,1 triliun, masih berada di bawah batas aman 3 persen.

BACA JUGA:  Janji Pj Bupati Parigi Moutong ke Dirjen GTK soal Guru Penggerak di Jabatan Kepsek dan Pengawas

Ia pun menegaskan, kebijakan fiskal yang ditempuh pemerintah bersifat countercyclical untuk menjaga ekonomi tetap bergerak di tengah tren perlambatan global.

Pemerintah, kata dia, tetap memberikan stimulus bagi perekonomian tanpa mengorbankan kehati-hatian fiskal.

“Kita harus memberikan stimulus ke perekonomian, tapi tetap menjaga agar defisit tidak melampaui 3 persen. Ini bentuk komitmen menjaga ekonomi tetap tumbuh secara berkesinambungan,” katanya.

Ke depan, APBN bersama mesin pertumbuhan ekonomi lainnya akan terus dioptimalkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

“APBN juga akan tetap difungsikan sebagai shock absorber guna melindungi daya beli masyarakat dan menjaga stabilitas perekonomian nasional,” tandasnya.

Laporan : Miswar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *