Example 970x250

Balada Politik Ustad Rafiq: Bukti Investasi Dakwah dan Doa Ampuh Merebut Hati Rakyat

Balada Politik Ustad Rafiq: Bukti Investasi Sosial Ampuh Merebut Hati Rakyat
Rafiq Al-Amri, seorang calon DPD RI Dapil Sulawesi Tengah yang berhasil meraih terbanyak pada Pemilu 2024. (Foto: Istimewa)

Bergerilya di Jakarta

Setelah menamatkan sekolah menengah di Madrasah Aliyah Alkhairaat Palu pada 1996, ia memutuskan merantau di Jakarta. Niat awalnya masuk ibukota pada masa itu untuk menjadi pedagang. Barangkali ini bisa menjadi profesi yang nantinya ia belajar banyak tentang kehidupan.

Namun niatnya berubah, ketika suatu hari, ia melihat ada gerombolan anak muda, remaja tepatnya, mengenakan sarung dan baju koko putih menaiki bus. Ia penasaran, dan tanpa disadarinya, hatinya tergerak dan kakinya melangkah mengikuti kelompok santri tersebut. Rombongan ini menuju sebuah masjid milik Masjid Al Riyadh Kwitang, yang merupakan tempat persemayaman Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi atau yang akrab dikenal sebagai Habib Ali Kwitang.

Ustad Rafiq sempat shock karena takjub. Baru kali ini ia melihat jamaah majelis ta’lim menyemut, yang jika ditaksir jumlahnya bisa mencapai 2000an orang. Ia ikut mendengarkan ceramah dan larut dalam forum majelis itu. Mulai dari situ, ia mulai memastikan bahwa jalan hidupnya akan dibaktikan di jalan Dakwah.

Ia punya dasar atas hal itu. Sejak usia SD, ia sudah mendapat didikan keras dalam disiplin yang diterapkan oleh adik ayahnya yang mereka sebut Bibi Nur.

BACA JUGA:  Begini Penjelasan Bawaslu Parigi Moutong Terkait Permohonan Sengketa Kuasa Amrullah-Ibrahim

Setiap hari kata Ustad Rafiq, ia harus ikut sekolah Diniah di waktu sore, sholat tak bisa putus dalam lima waktu, ikut menyimak ceramah kuliah subuh di TV, dan sesekali diminta tampil mengisi acara ceramah di lingkungannya. Bibi Nur menggembleng dia melalui latihan-latihan kecil, bagaimana bisa tampil di hadapan umum untuk ceramah (Muhadharah).

Sempat sekali waktu, ia diminta ceramah sebagai Dai cilik di Masjid Nur Parigi. Banyak orang penasaran dan takjub atas penampilannya. Ustad Rauf, yang kemudian menjadi kawan dakwahnya di Parigi, sempat menyaksikan penampilannya itu dan kagum, semuda itu Rafiq sudah berani tampil di depan umum untuk ceramah.

Selama delapan tahun di Jakarta, ia menghabiskan banyak waktu untuk belajar. Tanpa disadarinya, ia mulai tenggelam dalam ilmu agama, menghadiri berbagai majelis, membeli buku jika punya uang dan mengambil kesempatan bertanya pada setiap acara ta’lim.

Salah satu majelis yang sering ia datangi adalah kajian Dr. Salim Al Jufri di Pasar Minggu. Ia sempat belajar bersama Ustad Muhammad Ali Lamo (Alm) selama dua tahun di Condet. Di sanalah ia bertemu Habib Husein (Alm) yang punya pondok Pesantren Al Fahriah di daerah Srengseng Sawah Jakarta Selatan. Dari perkenalan itu, ia diajak mondok dan menjadi murid pertama asal Sulawesi Tengah di sana.

BACA JUGA:  Presiden Prabowo Dorong Percepatan Pemulihan Sekolah dan Layanan Kesehatan

Tak cukup sampai di situ, ia pun pergi ke Habib Sagaf bin Mahdi di Pasantren Nurul Iman di Parung-Bogor. Lama ia menjadi imam utama di pondok dengan jumlah ribuan santri itu.

Setelah merasa masa bergerilya menimba ilmu agamanya cukup, Ustad Rafiq pun kembali ke Palu pada 2003, ketika kampung halamannya— Parigi, sudah merdeka dari Kabupaten Donggala, menjadi daerah otonom baru dengan nama Kabupaten Parigi Moutong.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *