Example 970x250

Eva Bande Soroti Penyusutan Lahan Pertanian Indonesia

Koodinator FRAS Sulawesi Tengah, Eva Bande. (Foto : Istimewa)

JURNAL LENTERA, PALU – Aktivis agraria Sulawesi Tengah (Sulteng) Eva Bande menyoroti lahan pertanian Indonesia yang mengalami penyusutan setiap tahun. Ia khawatir, kondisi tersebut akan menjadi ancaman bagi dunia pertanian.

Menurut data BPS, kata Eva, penyusutan luas lahan pertanian itu tidak main-main. Hasil riset ikatan mahasiswa perencanaan, Indonesia mengalami penyusutan seluas 668.145 hektare.
Kemudian data BPS Sulteng 2013-2015, bila dilihat rentang waktu di 2013, luas sawah 146.721 Ha terus mengalami penyusutan hingga pada 2015 seluas 126 Ha.

Disandingkan data Wahana Lingkungan Hidup (WALHI), dari luas daratan Sulawesi Tengah 6,533 juta Ha. Pemerintah menerbitkan Izin Usaha Pertambangan (IUP) seluas 1.889 juta Ha atau 39 persen.
Selain itu, perkebunan sawit 11,14 persen, atau 700 Ha, kawasan hutan 4 juta Ha. Maka, lahan Sulawesi Tengah defisit hingga 126.000 hektar.

BACA JUGA:  Dean Huijsen Pastikan Kembali ke Juventus pada Akhir Musim Ini

BACA JUGA: DPRD Parimo Pertanyakan Penganggaran HPS dan Harkannas

“Masa depan pertanian Sulawesi Tengah ngeri,” kata Eva, saat menghadiri bersama film dokumenter ekspedisi Indonesia baru, Silat Tani diselenggarakan AJI Palu Sabtu malam, 15 Oktober 2022.

BACA JUGA: Kementan : Manfaatkan Lahan Bekas Tambang untuk Pertanian

Ini artinya, para petani masih dalam kawasan klaim hutan negara. Sehingga, area garapan masyarakat dalam klaim hutan negara, tidak dianggap sebagai kawasan pertanian.

“Intevensi negara lewat program tidak akan terjadi, sebab masih dalam status hutan negara,” ucapnya.

Dia mengatakan, data BPS 0,3 persen petani memiliki pendidikan rendah dan rata-rata berumur 40 tahun ke atas.

“Lalu dimana mahasiswa pertanian ribuan tahun itu? Ia (mahasiswa) disedot sektor lain tidak kembali ke kampungnya,” katanya.

BACA JUGA:  Perluas Akses Literasi, Kemendikbudristek Luncurkan Platform Buku Bacaan Anak Mode 3 Bahasa

Eva juga menyoroti panjangnya distribusi pangan petani mulai dari penadah, penggilingan, pasar induk, jatuhnya ke konsumen mahal.

“Maka mata rantai distribusinya harus diputus, mendekatkan produsen dengan konsumen,” pungkasnya.

Laporan : Roy Lasakka Mardani

Respon (3)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *