Example 970x250

Kelemahan Lamine Yamal yang Mirip Cristiano Ronaldo Terungkap

Pujian Menakjubkan Bagi Yamal Lamine di Bercelona Jelang Duel Melawan Munchen
Penyerang Barcelona, Lamine Yamal. (Foto: SC Youtube)

JURNAL LENTERA, JAKARTA – Kelemahan paling mencolok dari Lamine Yamal, bintang muda Barcelona, baru saja diungkapkan oleh tim pelatihnya. Di usia 17 tahun, Yamal sudah menjadi sosok sentral bagi klub dan tim nasional Spanyol.

Sejak memasuki musim 2023-2024, Yamal telah menjelma menjadi andalan Barcelona, di mana ia mencatatkan 50 penampilan pada musim lalu dengan 7 gol dan 10 assist.

BACA JUGA: Kemenangan Liverpool Lewat Assist dan Gol Mohamed Salah

Dengan postur tubuh 180 cm, Yamal sukses membangun kolaborasi mengesankan dengan Robert Lewandowski dan Raphinha, menciptakan trisula berbahaya di lini depan. Di musim ini, ia berhasil mencetak 5 gol dan 5 assist dari 11 pertandingan, angka yang menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun lalu.

BACA JUGA:  Parigi Moutong Bakal Miliki Tiga Wilayah Pertambangan Rakyat

Pencapaian Yamal juga tampak di panggung internasional, di mana ia tampil gemilang di Euro 2024, mendapatkan gelar Pemain Muda Terbaik setelah berkontribusi dengan 1 gol dan 4 assist dalam 7 laga.

BACA JUGA: Akibat Cedera Lutut, Alejandro Garnacho Mundur dari Timnas Argentina

Kualitasnya sebagai penerus Lionel Messi di Barcelona mulai diakui publik. Meski bakatnya di lapangan hampir sempurna, Yamal tak terlepas dari kelemahan.

Jurnalis Carles Fite mengungkapkan bahwa Yamal kesulitan dalam mengelola frustrasi. Dalam dua momen musim ini, ketika ia ditarik keluar di pertandingan melawan Young Boys dan Deportivo Alaves, emosi negatifnya tampak jelas.

Kelemahan pengelolaan emosi ini, menarik untuk dicatat. Mirip dengan yang sering dialami Cristiano Ronaldo, meski keduanya memiliki keterampilan yang luar biasa di lapangan.

BACA JUGA:  Rumor MotoGP: Martin ke Ducati, Marquez ke Pramac Musim Depan

Ronaldo, walaupun dikenal sebagai salah satu pemain terbaik, sering kali terlibat dalam kontroversi akibat ketidakmampuannya mengendalikan frustrasi.

Artikel ini telah tayang sebelumnya di Kompas.com

Respon (2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *