Sulteng Jadi Provinsi Pertama di Indonesia yang Gratiskan Kuliah Hingga Lulus

Sulteng Jadi Provinsi Pertama di Indonesia yang Gratiskan Kuliah Hingga Lulus
Penandatanganan nota kesepakatan bersama seluruh perguruan tinggi di Kantor Gubernur Sulteng, Kamis, 8 Januari 2026. (Foto: BIRO ADPIM)

JURNAL LENTERA, PALU – Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) mencatat sejarah baru dalam dunia pendidikan nasional. Melalui program Berani Cerdas, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulteng resmi menjadi provinsi pertama di Indonesia yang menggratiskan biaya kuliah hingga tuntas bagi seluruh generasi muda yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Program terobosan tersebut digagas langsung oleh Gubernur Sulteng Anwar Hafid, dan diperkuat dengan penandatanganan nota kesepakatan bersama seluruh perguruan tinggi di Kantor Gubernur setempat, Kamis, 8 Januari 2026.

Ia menegaskan, kebijakan ini belum pernah diterapkan secara menyeluruh oleh pemerintah provinsi mana pun di Indonesia.

Berani Cerdas bukan sekadar program populis, melainkan strategi pembangunan jangka panjang berbasis peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

BACA JUGA: Dukung Asesmen Akreditasi UIN Datokarama, Gubernur Sulteng Sebut Perkuat Mutu Pendidikan

“Saya kira di Indonesia ini belum ada provinsi yang bisa memberi program sebanyak ini. Ini bukan hanya soal janji politik, tapi langkah nyata untuk memajukan daerah melalui pendidikan,” ujarnya.

BACA JUGA:  Disdikbud Parigi Moutong Jadwalkan Launching 3000 Seragam Sekolah Gratis di Tahun Ajaran Baru

BACA JUGA: Wagub Sulteng Minta Daerah Percepat Pembentukan Sekolah Rakyat untuk Tekan Kemiskinan

Melalui BERANI Cerdas, kata dia, Pemprov Sulteng secara resmi mengambil alih pembiayaan pendidikan tinggi bagi putra-putri daerah. Sehingga, mahasiswa dapat menempuh pendidikan hingga lulus tanpa terbebani biaya kuliah.

Program ini dirancang untuk membuka akses pendidikan seluas-luasnya dan menjamin pemerataan kesempatan bagi seluruh masyarakat, tanpa terkecuali.

“Masa depan Sulteng tidak lagi bisa bertumpu pada kekayaan sumber daya alam semata, melainkan harus ditentukan oleh kualitas SDM yang dimiliki. Kita semua yakin, masa depan daerah ini bukan ditentukan oleh SDA, tetapi setinggi apa SDM yang dimiliki Sulteng,” katanya.

Ia lantas menyoroti kondisi pendidikan di daerah yang masih memprihatinkan. Di mana, rata-rata lama sekolah di Sulteng baru mencapai sekitar sembilan tahun atau setara tingkat SMP. Angka tersebut dinilai menjadi tantangan serius untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

BACA JUGA:  KPU Parimo Gelar Rakor Verifikasi Parpol

Bahkan, Indonesia Emas di cita-citakan akan sulit tercapai jika durasi pendidikan masih di angka sembilan tahun.

Dengan program Berani Cerdas, Pemprov Sulteng berharap dapat memutus mata rantai putus sekolah akibat keterbatasan ekonomi. Beban pembiayaan pendidikan tinggi yang selama ini ditanggung keluarga kini dialihkan menjadi tanggung jawab negara.

“Orangtua kalau mau membantu anaknya, bantulah yang lain. Soal biaya pendidikan tinggi, biar menjadi tanggung jawab Pemprov,” tandasnya.

Laporan : Mifta’in

Respon (2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *