JURNAL LENTERA, JAKARTA – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian, dalam rapat koordinasi bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) secara virtual yang diikuti Gubernur, Bupati, serta Walikota se-Indoensia menekankan antisipasi kenaikan harga barang dan jasa menjelang perayaan Idul Adha 1444 Hijriah, Senin, 19 Juni 2023.
Kegiatan ini, turut dihadiri Badan Pusat Statistik (BPS) RI, Badan Pangan Nasional RI, Kementrian Perdagangan RI, Kementrian Pertanian (Kementan) RI, Perum Bulog, Polri, TNI, Jaksa Agung, dan lembaga.
Mendagri menyampaikan, menghadapi hari besar Idul Adha 1444 Hijriah pada 28-29 Juni 2023, tentunya akan mengubah pola permintaan. Sehingga akan merubah keadaan barang dan jasa.
“Untuk itu, kita harus mengantisipasinya. Terutama menghadapi hari raya Idul Adha, agar tetap stabil harga barang dan jasa,” katanya.
Ia berpesan, agar seluruh kepala daerah untuk melaksanakan gerakan pasar murah pada 26 Juni 2023, secara serentak di 38 provinsi, yang diharapkann dapat menekan kanaikan harga barang dan jasa.
“Menjadi perhatian bagi provinsi, kabupaten/kota wilayah indonesia untuk mengatur dinamika harga agar tetap stabil,” katanya.
Ia juga menyampaikan, kondisi inflasi di Mei 2023, sudah mencapai angka yang cukup baik dan terkendali, yakni 4,00 persen. Angka itu lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya dan bulan yang sama di tahun lalu.
BACA JUGA: Pertamina Terapkan Kebijakan Beli LPG Subsidi Gunakan KTP
Menurutnya, ada beberapa wilayah di Indonesia yang mengalami kenaikan dan penurunan memiliki angka variatif. Dari data inflasi provinsi terendah penurunannya, yaitu Kepulauan Riau 2,99 persen, Kota Jayapura 2,39 persen, Kabupaten Dalasintang 2,59 persen.
BACA JUGA: Indonesia Negosiasi Penambahan Kuota Penangkapan Tuna
“Ada beberapa wilayah yang mencapai angka diatas 4,00 persen, yakni Provinsi Jawa Timur 5,02 persen, Kota Tual Maluku 5,59 persen, dan Kabupaten Banggai 5,21 persen,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Statistik Harga BPS RI, Windhiarso Putranto menerangkan, dari hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS), perubahan pola konsumsi terkait kelompok pengeluaran untuk perayaan (termasuk HBKN) mengalami penurunan tren. Jika dilihat menurut kelas masyarakat kelompok pengeluaran, maka terjadi penurunan pengeluaran cukup signifikan.
“SUSENAS dilaksanakan selama dua kali dalam setahun, Maret hingga September
untuk melihat pola konsumsi masyarakat,” kata Windhiarso.
Dijelaskannya, secara nasional, jumlah kabupaten dan kota yang mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) cukup stabil dari pekan sebelumnya, dari 275 di pekan pertama pada Juni menjadi 272 di pekan kedua Juni 2023. Bahkan, kenaikan IPH juga terjadi di sebagian besar wilayah Sumatera dan Kalimantan.
Pada indeks perkembangan inflasi di Juni, kenaikan harga komoditas dibeberapa kabupaten/kota, sampai dengan pekan kedua Juni 2023, yaitu daging ayam ras, cabai merah, telur ayam ras, cabai rawit, beras, bawang merah, bawang putih, minyak goreng, ikan kembung, jeruk, gula pasir, udang basah, tahu mentah, pisang, tempe, daging sapi, susu bubuk, mie goreng instans.
“Inflasi tertinggi pada bulan mei tahun 2023, bawang merah, daging ayam ras, ikan segar, telur ayam ras, rokok kretek filter, bawang putih,” jelasnya.
Secara umum, harga komoditas cabai merah dan cabai rawit menunjukkan peningkatan pada bulan-bulan yang bertepatan dengan momen hari raya, baik di level pedesaan, perdagangan besar maupun konsumen. Hal ini kemungkinan dipicu oleh faktor musiman atau cuaca, dan tingginya permintaan pada momen besar hari raya.
Kemudian, bawang merah dan daging sapi menunjukkan pola pergerakan harga yang mirip di semua level perdagangan, namun hanya mengalami peningkatan dibeberapa kali titik pada saat perayaan hari raya.
Laporan : Roy Lasakka Mardani/**











Respon (3)