JURNAL LENTERA, JAKARTA – Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) menggandeng Kurma Adzwa Farm sebagai mitra strategis dalam membangun sumber daya manusia (SDM) peternakan di desa.
Kerja sama ini diharapkan mampu mendorong lahirnya peternak-peternak muda yang terampil dan berdaya saing guna menggerakkan ekonomi perdesaan.
Komitmen tersebut disampaikan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto, saat menerima audiensi Owner Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Kurma Adzwa Farm, Ikhsan Davit Wijaya, di Jakarta, Senin, 26 Januari 2026.
BACA JUGA: Pendaftaran Tanah Nasional Melonjak, 97,4 Juta Bidang Kini Bersertipikat
Yandri menjelaskan, kolaborasi ini tidak hanya menyasar pengembangan usaha peternakan domba secara modern dan ramah lingkungan. Tetapi, juga peningkatan kapasitas generasi muda desa.
BACA JUGA: Menkeu Ungkap Peran Satgas Strategis Dorong Iklim Investasi Nasional
Melalui program tersebut, para pemuda akan mendapatkan pelatihan, termasuk kesempatan belajar ke Jepang, sebelum kembali ke Indonesia untuk menerapkan sistem peternakan yang berkelanjutan di daerahnya masing-masing.
“Ini sejalan dengan program pemuda pulang ke desa. Kita ingin membangun ekosistem peternakan yang kuat sekaligus menyiapkan SDM yang andal,” ujarnya.
Ia lantas mengapresiasi langkah Kurma Adzwa Farm dalam membangun kualitas SDM peternakan dan menyatakan kerja sama ini akan dituangkan dalam Memorandum of Understanding (MoU).
Menurutnya, Indonesia memiliki peluang besar melalui bonus demografi yang harus dimanfaatkan dengan memperkuat keterampilan dan pengetahuan generasi muda.
Ia pun menekankan pentingnya keseimbangan antara pendampingan dan pemberdayaan dalam setiap program pengembangan desa.
“Pendampingan tanpa pemberdayaan tidak akan menghasilkan kemandirian, sementara pemberdayaan tanpa pendampingan berisiko tidak berkelanjutan,” katanya.
Program kemitraan dengan Kurma Adzwa Farm direncanakan mulai diterapkan di Banten dan Jawa Barat, sebelum diperluas ke berbagai daerah lain di Indonesia.
Laporan : Multazam











