JURNAL LENTERA, PALU – Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng), Anwar Hafid, mengungkapkan penguatan nilai spiritual dan toleransi menjadi salah satu faktor penting terciptanya stabilitas sosial hingga mendorong masuknya investasi di Kabupaten Morowali.
Hal itu disampaikan Gubernur Anwar Hafid, saat menghadiri acara Ngobrol Pintar (NGOPI) bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulteng di salah satu cafe di Palu, Jum’at, 15 Mei 2026.
Dalam dialog bersama tokoh lintas agama tersebut, Anwar Hafid menjelaskan bahwa pembangunan daerah tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fisik dan infrastruktur, tetapi harus dibarengi penguatan spiritual masyarakat.
“Waktu itu saya mulai berpikir mungkin ada yang salah dari cara kita membangun. Saya kemudian belajar lagi dan melihat bahwa pembangunan tidak cukup hanya fisik. Harus ada landasan spiritual yang hadir di tengah masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, pemikiran tersebut melahirkan program Morowali Berjamaah dan Morowali Mengaji pada 2014 saat dirinya memimpin daerah tersebut.
Program itu melibatkan tokoh lintas agama mulai dari ustaz, pendeta hingga pemangku adat untuk memperkuat kehidupan spiritual masyarakat.
Ia menilai perubahan mulai terasa setelah suasana religius tumbuh di tengah masyarakat. Kondisi tersebut dinilai mampu menciptakan rasa damai, memperkuat kebersamaan, dan menjaga stabilitas sosial yang akhirnya berdampak positif terhadap iklim investasi di daerah.
Pengalaman itu bahkan menarik perhatian kalangan akademisi internasional. Ia mengaku pernah diundang berbicara di forum internasional di Universitas Gadjah Mada bersama perwakilan dari 28 negara untuk membahas hubungan antara spiritualitas dan pembangunan bangsa.
“Semua sepakat bahwa negara yang ingin maju harus menjadikan nilai spiritual sebagai landasan utama. Bahkan ada rekomendasi agar nilai spiritual diinternalisasi dalam sistem pemerintahan,” katanya.
Ia juga menyebut pernah mendapat undangan dari Jepang dan Thailand untuk mendalami konsep pembangunan berbasis budaya dan spiritual yang diterapkan di sejumlah negara maju.
Ia lantas menegaskan, toleransi merupakan warisan penting para pendiri bangsa. Ia menilai lahirnya Pancasila dan Piagam Jakarta menjadi bukti kuatnya semangat saling menghargai demi menjaga persatuan Indonesia.
“Tokoh-tokoh dahulu mungkin tidak secanggih kita sekarang, tapi toleransinya luar biasa. Mereka berpikir jauh ke depan bahwa Indonesia hanya akan maju kalau toleransi dijaga,” ungkapnya.
Sehingga, ia mendorong seluruh umat beragama untuk kembali memakmurkan rumah ibadah sebagai pusat pembinaan moral dan penguatan kehidupan sosial masyarakat.
“Kalau rumah ibadah ramai dengan jamaah, jemaat dan umat, siapa yang berani masuk memprovokasi? Nilai spiritual itu menghadirkan rasa damai dan rasa aman,” tutur Anwar Hafid.
Dijelaskannya, visi Berani Berkah yang kini menjadi salah satu pendekatan pembangunan di Sulteng. Menurutnya, kesejahteraan dan keamanan masyarakat hanya dapat tercapai apabila nilai spiritual hadir dalam kehidupan sosial.
Ia lantas mengapresiasi FKUB Sulteng yang dinilai berhasil menjaga kerukunan antarumat beragama hingga menjadi rujukan bagi daerah lain.
“Beberapa hari lalu ada FKUB dari luar daerah datang khusus belajar ke Sulteng. Ini menunjukkan kerukunan kita sudah dikenal luas,” pungkasnya.
Laporan : Mifta’in











