Baik Abdin maupun Gibran, sama-sama adalah generasi Milenial, yang lahir pada 1981-1996 (saat ini berusia 24-39 tahun).
Mereka punya kesempatan yang sama secara politik, bertarung untuk mengambil peran dalam sistem demokrasi Indonesia. Gibran memilih bertarung melalui jalur eksekutif untuk mencapai kursi nomor 2 Capres RI, sementara Abdin, memilih kursi legislatif di level paling bawa, DPRD Kabupaten Parigi Moutong.
Jika dilihat dari profilnya, Gibran punya peluang besar untuk mencapai mimpinya. Ia anak presiden, dengan segala privilege yang mengalir atas kekuasaan Ayahnya.
Beda halnya dengan Abdin yang bukan siapa-siapa. Ayahnya, semasa hidup pun bukan siapa-siapa. Abdin tumbuh besar atas kerja serabutan almarhum ayahnya menjadi penyulam atap rumbia, ‘makang gaji’ ikut membantu panen para petani di kampung, dan atau pekerjaan apa pun yang bisa dilakukan untuk menafkahi kehidupan mereka.
Tapi sebagai warga negara, Gibran dan Abdin punya kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan dan hidup layak. Dengan latar belakang berbeda, tentu jalan hidup mereka pun tak sama satu sama lain.
Sepeninggal Ibunya pada 2002, Abdin diserahkan ke pondok Pesantren Alkhairaat di Parigi. Di sanalah ia mondok hingga menamatkan sekolah menengah.
Lantas bagaimana Gibran? Anda tak perlu kaget, ia lahir dari keluarga berkecukupan, meskipun tidak bisa dibilang kaya raya.
Sejak SMP ia pindah ke Singapura untuk melanjutkan sekolah setingkat SMA pada tahun 2002 di Orchid Park Secondary School, Singapura. Mungkinkah Abdin bisa sekolah seperti Gibran, jawabannya mungkin.
Kita punya sistem bernegara yang demokratis, yang menjamin seluruh hak masyarakat untuk memperoleh pendidikan, kesehatan dan ekonomi yang baik. Makanya, kita harus bersyukur sebagai bangsa yang merdeka, bisa menentukan nasib sendiri. Termasuk untuk menentukan pilihan pada perhelatan Pemilu lalu.
Gibran bisa mencapai pendidikan tinggi, demikian pula Abdin. Meskipun lagi-lagi, jalanya berbeda. Jalan Gibran adalah karpet merah, sedang Abdin melangkah di jalur terjal berliku penuh rintangan.
Setelah menamatkan pendidikan di SMK Alkhairaat pada 2009 awal, ia harus menunda keinginan untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi. Kesempatan baru datang di penghujung tahun. Ia diterima di Jurusan Ekonomi Manajemen Universitas Alkhairaat Palu pada akhir 2009.
Lalu bagaiman Gibran pada masa itu? Ayahnya sudah menjabat Walikota Solo sejak 2005. Sekolahnya tidak mungkin kembali ke Indonesia. Pada 2007 ia lulus dari Management Development Institute of Singapore (MDIS) dengan gelar B.Sc (Hons) dan melanjutkan studinya ke program Insearch di Universitas Teknologi Sydney (UTS Insearch), Sydney, Australia hingga lulus pada tahun 2010.












Respon (1)