Namun dengan melihat peta konstalasi politik saat ini, dengan munculnya sejumlah nama tokoh-tokoh baru, Irwan menilai akan ada pergeseran paradigma. Beberapa nama potensial seperti Ahmad Ali, Irwan Lapata dan Anwar Hafid, setidaknya akan menjadi penentu apakah pemimpin yang akan menjadi nahkoda Sulteng 2024-2029 masih berasal dari lembah Palu atau bukan.
Dari ketiga calon gubernur tersebut kata Irwan, masing-masing punya peluang dan modal politik yang mumpuni. Ahmad Ali, meskipun belum berpengalaman menjadi pemimpin daerah, namun ia punya jaringan politik yang luas di level nasional, di samping ia dikenal punya modal logistik yang besar. Ia pengusaha.
Sementara baik Irwan Lapata maupun Anwar Hafid, sudah teruji secara pengalaman dalam mempimpin daerah. Mereka masing-masing pernah menjabat dua periode. Irwan di Sigi dan Anwar di Morowali.
“Kalau saya menilai semua potensial. Tapi semua akan tergantung bagaimana mereka memanfaatkan potensi yang ada. Potensi dari mesin partai, pengalaman maupun potensi logistik. Ini penting menjadi catatan,” kata Irwan.
Ia menambahkan, mungkin banyak orang akan bertanya-tanya terkait Ahmad Ali yang belum punya pengalaman memimpin daerah, namun menempati posisi strategis pada partainya (Nasdem) di level pusat. Ahmad Ali juga saat ini masih menjabat sebagai Anggota DPR RI sejak 2014.
Dengan latar belakangnya sebagai pengusaha, apakah Ahmad Ali akan memacu Sulteng lebih cepat kedepan dalam proses pembangunannya? Ini masih menjadi tanda tanya.
Yang pasti menurut Irwan, dari tiga nama yang potensial tersebut, mereka adalah orang-orang muda, satu generasi, yang sudah sepantasnya berkesempatan untuk memimpin Sulteng kedepan.
Laporan: M. SAHRIL












Respon (4)