JURNAL LENTERA, PARIGI MOUTONG – Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, mendistribusikan bantuan air bersih kepada warga yang terdampak krisis air akibat kemarau berkepanjangan sejak awal Januari 2026.
Langkah ini dilakukan sebagai bentuk respons kemanusiaan terhadap kondisi darurat kekeringan yang melanda sejumlah desa di Kabupaten Parigi Moutong.
Kepala Markas PMI Parigi Moutong, Fadli, mengatakan pendistribusian air bersih dilakukan menggunakan mobil tangki bantuan dari PMI Sulawesi Tengah.
BACA JUGA: Polisi Selidiki Penyebab Awal Terjadinya Kebakaran Hutan dan Lahan di Avolua Parigi Moutong
“Dropping air bersih ini merupakan bagian dari respons cepat PMI dalam menghadapi situasi darurat bencana kekeringan, sekaligus untuk meringankan beban warga yang selama ini harus mengambil air dari luar desa,” ujar Fadli di Parigi, Sabtu, 7 Februari 2026.
BACA JUGA: Tangani Kebakaran Hutan dan Lahan, Bupati Parigi Moutong Sebut Akan Gunakan Dana BTT
Pendistribusian air bersih tersebut, kata dia, baru dimulakan hari ini dan akan dilaksanakan secara bertahap menyesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.
“Kami berupaya memastikan bantuan air bersih dapat menjangkau warga yang benar-benar membutuhkan,” katanya.
Selama status tanggap darurat masih berlaku dan kondisi kekeringan belum membaik, PMI Parigi Moutong siap bersinergi dengan pemerintah daerah serta pihak terkait untuk melanjutkan distribusi air bersih.
Dalam pelaksanaannya, PMI Parigi Moutong menugaskan tiga orang relawan setiap hari untuk menyalurkan air bersih sejak pagi hingga sore. Distribusi difokuskan pada wilayah terdampak kekeringan, yakni Desa Jono Kalora, Kecamatan Parigi Barat, serta Desa Jononunu, Kecamatan Parigi Tengah. Penugasan relawan dilakukan secara bergantian.
“Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari status tanggap darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan yang telah ditetapkan di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Parigi Moutong, terhitung sejak 30 Januari hingga 29 Februari 2026,” ungkapnya.
Sebelumnya, kemarau panjang yang melanda wilayah Kabupaten Parigi Moutong menyebabkan krisis air bersih di Desa Jono Kalora, Kecamatan Parigi Barat. Seiring waktu, kondisi serupa juga terjadi di Desa Jononunu, Kecamatan Parigi Tengah.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius Pemkab Parigi Moutong karena berdampak langsung terhadap pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, seperti konsumsi, memasak, dan sanitasi.
Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Parigi Moutong, Rivai, ST, M.Si., mengungkapkan kelangkaan air bersih di Desa Jono Kalora sebenarnya telah terjadi sejak tahun lalu. Namun, semakin diperparah oleh musim kemarau berkepanjangan sejak awal Januari 2026.
Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Parigi Moutong, minimnya curah hujan menjadi penyebab utama krisis air bersih.
Akibatnya, debit sejumlah sumber air yang biasa dimanfaatkan warga, termasuk Sungai Jono Kalora, mengalami penyusutan drastis hingga mengering.
“Saat ini, sumber air bersih yang biasanya digunakan masyarakat untuk keperluan sehari-hari telah mengering,” ujar Rivai saat dihubungi via telepon WhatsApp, Rabu, 4 Februari 2026.
Ia menyebutkan, jumlah warga terdampak krisis air bersih di Desa Jono Kalora mencapai 421 kepala keluarga (KK) berdasarkan hasil asesmen Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Parigi Moutong. Sedangkan untuk Desa Jononunu, saat ini masih dalam tahap pendataan.
“Sebelum ada penanganan dari berbagai pihak, warga terpaksa mengambil air dari luar desa untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” tandasnya.
Laporan : Multazam










