260 Orang Bakal Dijadikan Sampel Survey Antibodi Covid-19 di Sulteng

Warga berswafoto usai melaksanakan vaksinasi Covid-19 di pabrik PT Utama Beton di Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, Sulawesi Tengah, pada Selasa 1 Juni 2021. (Foto : Adi Pranata/KabarSelebes.id)

JURNAL LENTERA – Sebanyak 260 orang di Sulawesi Tengah bakal menjadi sampel survey antibodi Covid-19 dalam rangka perubahan status pandemi menuju endemi. Sampel tersebut akan diambil di dua daerah, yakni Kota Palu dan Kabupaten Morowali Utara.

Untuk Kota Palu, hari ini sudah dilakukan On The Job Training (OJT) untuk para enumerator (petugas) yang terlibat dalam survey. Sementara untuk Morowali Utara, akan dilakukan cek logistik pada 27 November dan dilanjutkan untuk OJT dam pengambilan sampel di hari berikutnya.

“Jadwalnya hari ini kita sudah mulai untuk OTJ. Kemarin sudah cek logistik dan rencananya besok (Kamis) akan turun melakukan survey,” kata Kepala Dinas Kesehatan Sulteng, Dr. I Komang Adi Sujendra, saat dihubungi via telepon, Rabu 24 November 2021.

Kata Dr. I Komang Adi Sujendra, jumlah 260 sampel tersebut masing-masing untuk wilayah Kota Palu 200 orang dan sisanya 60 orang di Morowali Utara.

“Di Kota Palu 10 kelurahan. Satu kelurahan 20 sampel. Morowali Utara di tiga desa. Masing-masing Desa 20 sampel. Pemilihan lokasi ini berdasarkan data statistik Kemenkes, untuk mewakili sampel di Sulteng. Setiap provinsi berbeda-beda jumlah daerahnya, tergantung ketentuan pusat,” kata Dr. I Komang Adi Sujendra.

BACA JUGA:  Imbas Temuan BPK, DPRD Parigi Moutong Soroti Pelayanan RSUD Anuntaloko

Menuju Endemi, Kota Palu dan Morowali Utara jadi Sampel Survey Antibodi Covid-19

Ada pun desa dan kelurahan di Kota Palu yang akan dijadikan sampel dalam survey antibodi tersebut yakni Kelurahan Balaroa, Lere, Tipo, Buluri, Watusampu, Besusu Barat, Lolu Utara, Talise, Kayumalue Ngapa dan Kelurahan Mamboro. Rencananya, kegiatan pengambilan sampel di Palu akan berlangsung hingga 4 Desember mendatang.

Survei kondisi antibodi masyarakat akan dilakukan setiap 6 bulan. Survei tersebut menggunakan metode seroprevalence dan akan dilakukan kepada 21.880 sampel yang tersebar di 100 kabupaten/kota pada 34 provinsi.

Survei dilakukan lantaran banyak rakyat Indonesia sudah memiliki kekebalan Covid-19, baik dari vaksin maupun karena tertular virus corona.

“Ini agar hasilnya bisa dibagikan di dunia dan menunjukan kesiapan Indonesia dalam tangani pandemi serta transisi menjadi endemi,” kata Budi seperti dalam konferensi pers daring beberapa waktu lalu.

Menurut The Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, seroprevalence survei menggunakan tes antibodi untuk memperkirakan persentase orang dalam populasi yang memiliki antibodi terhadap SARS-CoV-2. Tes ini dapat menginformasikan berapa banyak orang dalam populasi tertentu yang sebelumnya telah terinfeksi virus corona.

BACA JUGA:  Parigi Moutong Utus 29 Atlet Pelajar ke Ajang POPDA Sulteng

Di Indonesia, survei dilakukan oleh Kementerian Kesehatan bersama dengan Kementerian Dalam Negeri dengan menggandeng Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Survei diharapkan bisa selesai pada pertengahan Desember untuk memberikan gambaran lengkap kondisi antibodi seluruh masyarakat.

Sebelumnya, Epidemiolog dari Griffith University Dicky Budiman mengatan masyarakat telah mencapai kekebalan akibat telah terinfeksi Covid-19 atau telah vaksinasi. Kekebalan ini terbentuk setelah dua bulan gelombang kedua virus corona.

Perkiraan Terburuk Kasus Covid-19, Naik 430 Persen sampai Maret 2022

Laporan: M. Sahril

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *