Example 970x250

Asa Peternak Sapi Menjemput Rejeki di Idul Adha

Asa Peternak Sapi Menjemput Rejeki di Idul Adha
Rustam, pemilik kandang sapi di Bambalemo. (Foto: Muh. Reza Fauzi/JurnalLentera.com)

“Soalnya, kami memsok sapi masih berdasarkan permintaan konsumen. Kalau memang ada permintaan, baru kami tambah jumlah sapi kurbannya,” jelasnya.

Dalam beternak, Rustam mengaku menggunakan dua metode peternakan sekaligus, yakni ternak bibit dan penggemukan. Untuk ternak bibit, seperti diketahui bahwa sapi yang dipelihara dibesarkan mulai dari kecil. Sementara metode penggemukan, Rustam membeli dari pemilik sapi di Parigi dan sekitarnya, dan ia merawatnya hingga layak jual.

Seorang karyawan Rustam tengah mempersiapkan pakan sapi. Foto Reza

“Untuk metode penggemukan sendiri, kami juga mengambil beberapa sapi khusus kurban di luar daerah Parigi seperti Kota Palu,” ujarnya.

Rustam melanjutkan, kalau mendekati hari raya Idul Adha biasanya kandangnya mulai ramai didatangi calon pembeli. Tapi untuk tahun ini, penjualannya bisa dibilang agak sepi.

“Baru tiga ekor yang laku. Tapi alhamdulillah. Mungkin karena ini khusus sapi kurban, kebanyakan orang harus patungan. Mungkin masih dikumpul duluh modalnya,” kata Rustam penuh harap.

BACA JUGA:  Yuk! Main ke Kebun Anggur Ibu Huzaimah di Parigi, Bisa Petik Sendiri

Merawat sapi untuk keperluan kurban kata Rustam bisa dibilang tidak mudah, tapi juga tidak sulit. Semua pekerjaan punya resiko. Ia merawat sapinya tidak menggunakan trik khusus. Cukup diberi pakan dan vitamin supaya sapi rajin makan.

“Untuk suntikan vitamin yang saya kasih berupa suntikan kekuatan dan suntikan napsu makan,” katanya.

Ditanya sapi jenis apa yang paling diminati oleh pelanggan untuk keperluan kurban, Rustam mengaku umumnya pelanggan tak peduli. Hanya ada beberapa orang yang biasa yang paham sapi, biasanya bertanya detail.

“Kebanyakan pembeli lebih melihat ukuran sapi di bandingkan jenisnya,” tambah Rustam.

Ditanya soal berapa rerata bobot sapi yang ia jual khusus untuk keperluan kurban, pria kelahiran 1997 ini mengaku ia sering menjual sapi yang sudah mencapai bobot satu kwintal lebih, 100-120 kilogram.

“Itu belum terhitung dengan tulangnya ya,” ujarnya.

BACA JUGA:  Pengelola Koperasi Wajib Tahu, Berikut Penjelasan LPDB

Ia mengaku untuk tahun ini harga sapi kurban mengalami sedikit kenaikan dibanding tahun sebelumnya. Peternakannya memasang harga Rp16 juta untuk jenis sapi lokal.

“Tahun lalu harganya masih 14 juta untuk sapi kurban lokal. Kami bisa menjual sampai 35 ekor sapi tahun lalu,” beberanya.

Di akhir perbincangan kami, Rustam nampak masih semangat, meski harus terus menunggu dan berharap agar sapi-sapinya bisa laku, dan disembelih menjadi daging kurban.

“Yang namanya rejeki, kan sudah ada yang atur. Kita cuma berusaha saja. Insya Allah, rejeki akan datang di waktu yang tepat,” katanya.

Laporan: Moh. Reza Fauzi

Respon (2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *