Dari Toko Merah hingga Masjid Jami Angke, Fadli Zon Soroti Pentingnya Pelestarian Sejarah Jakarta

Dari Toko Merah hingga Masjid Jami Angke, Fadli Zon Soroti Pentingnya Pelestarian Sejarah Jakarta
Menbud, Fadli Zon, saat meninjau salah satu bangunan sejarah di Jakarta, Senin, 18 Agustus 2025. (Foto: Dok Kemenbud)

JURNAL LENTERA, JAKARTA – Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon, bersama Ketua Dewan Penyantun Museum dan Cagar Budaya, Hasjim Djojohadikusumo, meninjau sejumlah bangunan bersejarah di kawasan Kota Tua dan Angke, Jakarta Barat, Senin, 18 Agustus 2025.

Kunjungan tersebut turut didampingi oleh Pendiri Yayasan Arsip Nasional sekaligus anggota Dewan Pengawas Museum dan Cagar Budaya, Tamalia Alisjahbana.

Bangunan yang dikunjungi antara lain Toko Merah, Rumah Baron Von Wurmb, Gedung Ex-Chartered Bank, serta Gudang Timur VOC.

Fadli Zon lantas mengapresiasi para pemilik bangunan yang masih menjaga orisinalitasnya, meski sebagian telah berganti fungsi seiring perkembangan zaman.

BACA JUGA: Kemdiktisaintek Gandeng AMINEF Perluas Akses Beasiswa dan Kolaborasi Akademik dengan AS

“Bangunan-bangunan ini merupakan peninggalan bersejarah dengan gaya arsitektur yang berbeda-beda, mulai dari Barok abad ke-18, hingga Art Deco era 1920-an. Pelestariannya penting karena menjadi saksi sejarah perjalanan Batavia hingga kini,” ujarnya.

BACA JUGA:  Komitmen Kementerian PU Bangun Infrastruktur Inklusif Lewat Program GESIT-KIAT

BACA JUGA: Menteri ATR/BPN Sampaikan Permohonan Maaf soal Isu Kepemilikan Tanah oleh Negara

Ia mencontohkan, Toko Merah yang dibangun pada 1730 oleh Gustaaf Willem Baron van Imhoff. Gedung ini pernah menjadi kantor Bank voor Indie pada 1920-1940, kemudian dinasionalisasi setelah kemerdekaan, hingga kini beralih fungsi menjadi kafe.

Adapun Rumah Baron Freidrich von Wurmb, pendiri Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, dikenal sebagai Gedung Singa Kuning karena adanya dua patung singa emas di pintu masuk.

“Kita akan memastikan adanya pelestarian terhadap bangunan ini, karena termasuk yang tertua di Batavia pada masanya,” tegasnya.

Selepas dari Kota Tua, rombongan melanjutkan kunjungan ke Masjid Jami Angke atau Masjid Jami Al-Anwar yang dibangun pada 1761.

Menurutnya, masjid ini tidak hanya menjadi salah satu masjid tertua di Jakarta. Tetapi, juga mencerminkan akulturasi budaya karena di kompleksnya terdapat makam tokoh agama dari berbagai latar belakang etnis.

BACA JUGA:  Gubernur Gorontalo Boyong Enam Kepala Daerah Temui Menteri PU Bahas Infrastruktur dan Sekolah Rakyat

“Masjid ini adalah simbol keberagaman sekaligus bukti nyata akulturasi budaya di Batavia kala itu,” katanya.

Ia menegaskan, kunjungan ini merupakan langkah awal merumuskan strategi pelestarian sekaligus pemanfaatan cagar budaya di Jakarta.

“Pelestarian cagar budaya harus menjadi gerakan bersama. Dengan kolaborasi semua pihak, warisan ini tidak hanya terjaga, tapi juga memberi manfaat nyata bagi kesejahteraan rakyat,” tandasnya.

Laporan : Miswar

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *