Selain sering dilantunkan dalam berbagai ritual keagamaan di tengah kehidupan masyarakat Muslim, khususnya NU, Sholawat Badar juga memiliki fungsi kultural yaitu sebagai salah satu basis pandangan dunia dalam mempersepsi dan memaknai konsep ketuhanan serta prilaku kehidupan.
Sedangkan Harry Roesli, yang dikenal dengan julukan Si Bengal dari Bandung merupakan sosok seniman nyentrik yang telah melahirkan banyak karya fenomenal dalam jagat musik Indonesia. Selain kemampuannya meracik lirik yang sarat kritik sosial, ia juga dikenal atas kepeduliannya terhadap keberadaan kaum marginal seperti anak-anak dan pengamen jalanan, yang membuat hatinya tergerak untuk menciptakan wadah komunitas kreatif sebagai ruang berekspresi, berdiskusi, dan berkarya di bidang seni music.
Tujuannya, agar para seniman jalanan ini mendapat pengakuan dan bahkan hidup layak di tengah masyarakat.
Atas dasar itulah Depot Kreasi Seni Bandung (DKSB) didirikan pada 1981 di kediamannya, yang selalu ramai dengan aktivitas berkesenian oleh berbagai generasi dan lapisan masyarakat. Harry juga menginisiasi pendirian jurusan pendidikan seni musik di IKIP Bandung (UPI Bandung) pada 1982 dan jurusan seni musik di Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Universitas Pasundan pada 1999.
Ditemui usai menerima tanda kehormatan dari Presiden, Ahmad Syakir Ali yang merupakan ahli waris dari alm. KH. Ali Manshur Shiddiq mengungkapkan rasa bangga sekaligus haru yang menyelimutinya atas penghargaan yang diterima.
“Tentu terharu. Tidak pernah terpikirkan bahwa beliau (KH.Ali Manshur Shiddiq) akan mendapatkan tanda kehormatan dari Presiden. Beliau adalah sosok yang sangat sederhana. Suka menulis, ulet, dan gigih yang memberikan inspirasi bagi banyak orang,” ungkapnya.
Sementara itu, Kania Handiman Roesli yang merupakan istri dari mendiang alm. Harry Roesli mengungkapkan hal serupa.











