Pesawat Jatuh di Haiti Menimpa Truk, Enam Tewas

Orang-orang berkumpul di sekitar puing-puing pesawat kecil yang jatuh di Port-au-Prince, Haiti, 20 April 2022. (Foto: REUTERS | Lutherson Leon)

JURNAL LENTERAJakarta – Sebuah pesawat jatuh di jalan yang sibuk di ibu kota Haiti, Port-au-Prince pada Rabu, 20 April 2022. Insiden itu menewaskan sedikitnya enam orang termasuk pilot.

Dilansir dari Reuters, Kamis, 21 April 2022, pesawat kecil itu lepas landas dari bandara Port-au-Prince pada 15:44 ET (1944 GMT) ke kota Jacmel, kata otoritas penerbangan sipil Haiti.

Namun sekitar 20 menit di udara, pesawat mengalami kerusakan mesin dan mengirimkan peringatan bahaya.

“Saya menyampaikan simpati saya kepada keluarga para korban, yang sedang bersedih akibat tragedi ini,” kata Perdana Menteri Haiti Ariel Henry di Twitter. Ia tak menyebutkan jumlah korban tewas atau terluka.

BACA JUGA: Presiden Turki Kecam Intervensi Israel di Masjid Al-Aqsa

Jude Edouard Pierre, walikota komune Carrefour tempat pesawat itu jatuh, mengatakan enam orang tewas dalam insiden pesawat jatuh.

Menurut sumber di pemerintahan, pilot pesawat meninggal setelah dibawa ke rumah sakit.

Video yang beredar di WhatsApp memperlihatkan puing-puing pesawat yang pecah di tengah jalan. Tubuh korban tewas terdapat di antara puing pesawat.

Dilansir dari Washington Post, pesawat mencoba mencoba di jalan raya. Nahasnya pesawat menabrak truk yang mengangkut botol soda, kata Pierre Belamy Samedi, seorang komisaris polisi untuk wilayah itu.

Kantor Penerbangan Sipil Nasional Haiti mengidentifikasi pesawat itu sebagai Cessna 207. Belum diketahui rincian lengkapnya.

BACA JUGA: Terduga Pelaku Penembakan di New York City Sudah Ditahan

Sembilan bulan lalu, sebuah pesawat pribadi kecil yang juga menuju ke Jacmel jatuh di dekat Port-au-Prince. Insiden itu menewaskan enam orang, termasuk dua misionaris warga negara Amerika Serikat.

Penggunaan pesawat kecil untuk melakukan perjalanan dari Port-au-Prince ke komunitas di selatannya semakin populer menyusul lonjakan penculikan dan kekerasan geng, terutama di daerah Martissant, yang menghubungkan ibu kota ke selatan Haiti.

Artikel ini telah tayang sebelumnya di Tempo.co

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *