Bicara soal subjektif atau tidaknya sebuah survei, tim Jurnal Lentera menghubungi Tari Akbar, yang punya pengalaman beberapa kali ikut dalam tim survei politik di Sulteng. Ia pernah bergabung dengan sejumlah lembaga survei seperti LSI, dan SMRC. Menurutnya, kecil kemungkinan hasil survei akan bersifat subjektif sebab cara kerjanya menggunakan metode ilmiah.
“Kalau pun pihak klien punya kepentingan khusus, maka yang dilakukan sering kali adalah nama tertentu harus muncul lebih dominan, dibanding nama lain di sejumlah pertanyaan survei. Ini bisa mengarahkan, Tapi tidak memanipulasi data ya,” kata Tara, panggilan akrabnya.
Untuk apa saja dana survei digunakan?
Selain mempertanyakan subjektif atau tidaknya sebuah survei, publik juga banyak bertanya-tanya soal penggunaan biaya survei. Ditanya soal itu, Tara mengatakan sesuai pengalamannya. Kata dia, banyak orang yang terlibat dalam survei, bekerja sesuai tugasnya.
“Di level daerah, ada namanya koordinator wilayah, kemudian ada asisten wilayah; bagian keuangan, metode dan administrasi. Kemudian ada tim monitoring dan paling di bawah adalah surveyor,” jelas Tara,.
Mereka yang terlibat di daerah ini kata Tari, bekerja berdasarkan kontrak dalam setiap projek. Masing-masing bidang akan bekerja, yang dalam sebulannya, waktu produktif bekerjanya biasa hanya dua minggu. Biasanya kata Tara, mereka akan bekerja satu minggu secara full time saat data sudah diterima dari lapangan, sebelum diserahkan ke pusat untuk dianalisa. Biasanya, untuk sekali melakukan survei, waktu dibutuhkan hanya satu bulan.
“Kalau surveyor, upahnya dibayarkan untuk kebutuhan transportasi pulang pergi ke wilayah sampel, dan jumlah responden yang ia tangani. Untuk uang transport, tergantung wilayah. Semakin jauh semakin besar. Saya kalau yg paling jauh itu di Banggai Laut dan Bangkep,” katanya.
Ia melanjutkan, untuk biaya satu orang sampel, biasanya mereka dibayar berdasarkan tebal atau tipisnya questioner. Kalau yang tebal itu biasanya Rp50.000 per responden, dengan tebal questioner hingga 50 lembar. Kalau questioner tipis, upahnya per sampel Rp35 ribu per responden.












Respon (3)