Example 970x250

Rully Shabara, Seniman Palu Teriakannya Mendunia

Rully Shabara, Seniman Palu Teriakannya Mendunia
Rully Shabara Herman. (foto: micoope.com.gt)

Pada tahun 2004-2005, ia tertarik membuat sebuah project yang diberi nama Zoo: Trilogi Peradaban bersama Bhakti Prasetyo, Dimas Budi Satya, dan Ramberto Agozalie. Rully menyebut projek itu adalah garapan musik rock progresif yang dikawinkan dengan elemen-elemen bunyi dari musik tradisi.

Dalam menggarap musik ini, Rully mengaku banyak terpengaruh oleh musik-musik instrumental Jepang seperti Tatsuya Yoshida dan Melt Banana untuk urusan sound. Atas kesuksesan project itu, Zoo diklaim sebagai kelompok musik pertama di Indonesia yang membawakan gaya bermusik seperti Tatsuya atau John Zorn di Eropa.

Rully Shabara. (Foto: Bartek Muracki untuk Matkey)

Banyak yang menganggap musik yang dimainkan dalam project Zoo adalah musik eksperimental, kontemporer (avant-garde), atau musik tradisi. Tapi Rully mengaku waktu itu ia menampilkan musik metal dalam versi mereka. Bunyi-bbunyi yang diciptakan berasal dari alat-alat musik moderen seperti terompet, drum dan gitar.

BACA JUGA:  22 Korban Kasus Perdagangan Orang Dijanjikan Pekerjaan

Sukses dengan kolaborasi itu, Rully mencoba project musik berikutnya yakni musik folk melayu bersama Soni Irawan pada Februari 2014. Ia namakan itu project Seroja. Dalam komposisi yang ia buat, mereka memainkan instrumen dari alat-alat musik tradisi melayu seperti rebana dan gitar, dipadu koor suara lelaki yang mendayu-dayu, mirip sajian musik ensembel.

Kemudian, masih pada tahun yang sama, Rully kembali melakukan kolaborasi dalam project yang ia namakan We Rock bersama seorang penyair, Rudi Wuryoko yang mengalami Schizophrenia. Rully menggebuk drum ala punk, dan Rudi bermain monolog dengan teriakan-teriakan yang bisa membawa penonton pada sutiasi yang pernah mereka alami di masa lalu.

Kolaborasi ini bisa dibilang semacam aksi teaterikal yang didominasi bunyi suara manusia dan alat musik. Gebukan drum Rully yang acak namun berirama, dipadu teriakan ‘minta ampun’ oleh Rudi, bisa membawa kita pada situasi masa kecil saat dimarahi atau dipukuli seseorang. 

BACA JUGA:  Berlinang Air Mata, Leo/Daniel Pertahankan Gelar di Indonesia Masters 2024

Kemudian ia menggarap project bersama seniman tradisional Kendangsari asal Jawa Barat, Tony Maryana. Procect ini yang ia sebut musik tradisi versi dirinya, karena mengeksplorasi alat musik tradisi kendang Sunda. Lalu ia melakukan kolaborasi berikutnya dalam project Sentosa, yang bekerjasama dengan pemain biola. Ia menyebut itu project sastra, karena ia dalam kolaborasi itu Ruly tidak bernyanyi, hanya membaca buku sastra yang pernah ia tulis.