Sepanggung dengan Wukir Suryadi dan menjadi Senyawa
Penampilan itu, seperti yang sudah dibayangkan Wok, menjadi sebuah jamming yang apik dalam sebuah panggung pertunjukan. Improfisasi kedua musisi muda itu berhasil menciptakan atmosfer ‘magis’ di antara para penonton. Perpaduan bunyi alat musik bambu buatan Wukir dan suara vokal khas Rully yang unik teramplifikasi melalui sound sistem yang prima, membuat para penonton terpesona.
Usai penampilan tersebut, Rully dan Wukir terlibat obrolan dan berencana untuk mebuat album kolaborasi. Dan itu hanya dikerjakan dalam empat hari yang penuh spirit. Sesingkat dan seintim itu, Rully dan Wukir akhirnya memadu tekat membentuk kelompok musik yang diberi nama Senyawa.

Mulai Tampil di Luar negeri
Keberhasilan mereka dalam album pertama yang tayang di Yes No Wave, membuat debut duo Senyawa ini semakin melebar. Beberapa bulan setelah kelahiran album pertama, mereka diminta bermain di panggung-panggung luar negeri seperti Melbourne Jazz Festival. Senyawa dibawa oleh Kristi Mofreis dari Volcanic Wind project, seorang kreatif produser dan kurator berdarah Jawa-Australia yang mempunyai spesialisasi pada kerja-kerja kolaborasi kesenian ekperimental antara Asia dan Australia.
Beruntung bagi Duo Senyawa ini tampil di event tersebut. Mereka perform di panggung yang sama dengan Tatsuya Yoshida, Faust dan sejumlah musisi ternama dunia. Dari situlah awalnya, Senyawa mendapatkan banyak tawaran untuk manggung di berbagai tempat di luar negeri.
Dibawa menajerial Kristi, sejak tahun 2011 Duo Senyawa ini sering diundang untuk tampil di luar negeri paling sedikit tiga kali dalam setahun. “Dan itu yang membuat Senyawa nyaman hingga seperti saat ini,” kata Rully.








Respon (3)